1.500 Dokter Bedah Berkumpul di Banda Aceh, Bahas Tantangan Medis Saat Bencana
Banda Aceh, Acehxpose.com | Sekitar 1.500 dokter bedah dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Banda Aceh dalam agenda Pengembangan Profesi Bedah Berkelanjutan (P2B2) XXIII Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) 2026.
Kegiatan yang berlangsung 8-12 September 2026 tersebut mengangkat tema “Disaster Surgical Resilience and Innovation: Meningkatkan Kualitas dan Akses Layanan Bedah Indonesia di Tengah Bencana, Transformasi Kesehatan dan Perkembangan Teknologi.”
Pertemuan para dokter bedah dari Sabang hingga Merauke ini tidak hanya menjadi ajang pembaruan ilmu pengetahuan, tetapi juga membahas tantangan pelayanan bedah di tengah ancaman bencana, transformasi sistem kesehatan, keterbatasan sumber daya, hingga perkembangan teknologi medis.
Rangkaian P2B2 XXIII PABI 2026 secara resmi dibuka oleh Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Aceh, Drs Syakir, M.Si.
Ketua Panitia Pelaksana P2B2 XXIII PABI 2026, dr Syafwan Azhari, SpB-ET, FINACS, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin organisasi profesi.
Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang strategis untuk meningkatkan kompetensi dokter bedah, memperkuat jejaring profesi, mendorong kolaborasi, sekaligus mencari solusi terhadap berbagai tantangan pelayanan bedah di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat PABI, dr Heri Setyanto, SpB-ET, FINACS, berharap pertemuan tersebut tidak hanya menghasilkan pembaruan pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kapasitas para dokter bedah dalam menghadapi berbagai situasi pelayanan.
Perjalanan Terganggu Abu Vulkanik
Menariknya, perjalanan sebagian peserta menuju Banda Aceh sempat diwarnai ketidakpastian akibat perubahan jadwal perjalanan dan penyebaran abu vulkanik beberapa waktu lalu.
Namun, kondisi tersebut justru dinilai selaras dengan tema besar P2B2 XXIII PABI 2026 yang menekankan pentingnya ketangguhan dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi situasi krisis.
Hambatan perjalanan menjadi gambaran nyata mengenai pentingnya resiliensi, adaptasi, solidaritas, serta kesiapan menghadapi kondisi darurat.
Sekitar 1.500 dokter bedah yang hadir berasal dari berbagai rumah sakit pusat maupun daerah. Mereka juga datang dari wilayah kepulauan, kawasan terpencil, hingga daerah yang memiliki risiko bencana tinggi.
Perbedaan latar belakang tersebut mempertemukan berbagai pengalaman dan tantangan pelayanan bedah di Indonesia.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah pemerataan akses pelayanan bedah. Dengan kondisi geografis Indonesia yang sangat luas, masyarakat di berbagai daerah diharapkan tetap memperoleh pelayanan bedah yang berkualitas, aman, cepat, dan mudah diakses.
Bedah dan Kesiapsiagaan Bencana
P2B2 XXIII PABI 2026 menghadirkan berbagai workshop dan simposium yang membahas perkembangan ilmu bedah, keselamatan pasien, penanganan trauma, kegawatdaruratan, kesiapsiagaan rumah sakit, hingga pemanfaatan teknologi kesehatan.
Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah Workshop Disaster Medicine.
Dalam agenda tersebut, peserta membahas berbagai aspek penanganan medis saat bencana, mulai dari kesiapsiagaan, penanganan korban massal, triase, sistem komando, hospital disaster preparedness, trauma surgery, damage control surgery, hingga peran Emergency Medical Team dan humanitarian medicine.
Hal tersebut dinilai penting mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki tingkat risiko bencana cukup tinggi.
Saat bencana terjadi, kebutuhan penanganan trauma dan tindakan operasi dapat meningkat. Pada saat yang sama, fasilitas kesehatan, sistem rujukan, transportasi, listrik, komunikasi, hingga rantai pasok medis dapat mengalami gangguan.
Karena itu, ketangguhan pelayanan bedah tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan dokter dalam melakukan operasi. Kesiapan rumah sakit, sistem komando, triase, pengendalian perdarahan, tindakan penyelamatan nyawa, koordinasi rujukan, hingga pemulihan layanan pascabencana juga menjadi bagian penting.
AI hingga Drone Masuk Pembahasan
Selain kebencanaan, perkembangan teknologi kesehatan juga menjadi bagian penting dalam forum tersebut.
Para peserta membahas pemanfaatan artificial intelligence (AI), telemedicine, drone, Geographic Information System (GIS), teknologi digital, hingga minimally invasive surgery dalam pelayanan kesehatan dan praktik pembedahan.
Perkembangan teknologi tersebut membuat tuntutan terhadap dokter bedah semakin kompleks.
Dokter tidak hanya dituntut memiliki keterampilan operatif, tetapi juga harus mampu mengambil keputusan secara cepat dalam situasi krisis, berkoordinasi dengan berbagai pihak, memanfaatkan teknologi, serta memberikan pelayanan dalam kondisi sumber daya yang terbatas.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi tetap harus berjalan beriringan dengan keselamatan pasien, pemerataan akses, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, dan prinsip kemanusiaan.
Perkuat Bedah Emergensi dan Traumatologi
P2B2 XXIII PABI 2026 juga menjadi momentum untuk memperkuat kompetensi dokter dalam bidang Bedah Emergensi dan Traumatologi (SpB-ET).
Bidang tersebut memiliki peran penting dalam menangani berbagai kasus trauma, kegawatdaruratan bedah, korban massal, bencana, serta kondisi kritis yang membutuhkan keputusan dan tindakan operasi secara cepat dan tepat.
Penguatan kompetensi di bidang ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan dokter bedah dan rumah sakit dalam menghadapi kondisi darurat, baik dalam pelayanan sehari-hari maupun ketika terjadi bencana berskala besar.
Melalui pertemuan tersebut, para dokter bedah dari berbagai penjuru Indonesia tidak hanya memperbarui pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memperkuat jejaring dan kolaborasi untuk membangun layanan bedah Indonesia yang lebih tangguh, inovatif, dan merata.