Walikota Banda Aceh IIIiza Sa'aduddin Djamal pada satu kesempatan berinteraksi dengan masyarakat. Foto : Ist.
Bunda Illiza, Srikandi dari Ujung Sumatera
Oleh : Redaksi
Jika ingin mengetahui bagaimana ritme kerja Illiza Sa'aduddin Djamal, tak perlu menunggu laporan resmi pemerintah. Cukup membuka media sosialnya. Dalam sehari, ia bisa hadir di berbagai tempat; menghadiri kegiatan masyarakat, meninjau pembangunan, menyapa pelaku UMKM, mengunjungi warga yang sakit, hingga memastikan fasilitas publik berfungsi sebagaimana mestinya.
Langkahnya nyaris tak berhenti. Energinya seolah tak pernah habis. Di setiap kunjungan, ia tidak sekadar datang untuk memenuhi agenda seremonial, tetapi berusaha mendengar, berdialog, dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Padahal, di balik aktivitas yang padat itu, ia adalah seorang perempuan yang memikul amanah besar sebagai Wali Kota Banda Aceh.
Illiza bukan sosok baru dalam panggung politik Aceh. Darah pengabdian mengalir dari keluarganya. Ayahnya dikenal sebagai seorang ulama sekaligus politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Aceh. Sejumlah anggota keluarganya pun turut mengabdikan diri melalui jalur politik. Lingkungan itulah yang membentuk kepeduliannya terhadap masyarakat sejak usia muda.
Perjalanan pengabdiannya dimulai pada 2006 ketika ia dipercaya menjadi Wakil Wali Kota Banda Aceh, mendampingi almarhum Mawardy Nurdin, sosok yang dikenal sebagai arsitek pembangunan Banda Aceh pascatsunami.
Bersama Mawardy Nurdin, ia ikut menyaksikan sekaligus terlibat dalam proses membangun kembali ibu kota Provinsi Aceh yang porak-poranda akibat bencana besar 2004. Ketika Mawardy Nurdin wafat pada masa jabatan kedua, Illiza melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai Wali Kota. Sebuah amanah yang dijalankannya dalam situasi yang tidak mudah.
Namun perjalanan politik tak selalu berjalan lurus. Pada Pilkada 2017, ia harus menerima kenyataan tidak lagi memimpin Banda Aceh. Bagi sebagian orang, kekalahan adalah akhir perjalanan. Bagi Illiza, itu hanyalah jeda dalam pengabdian.
Dua tahun kemudian, masyarakat Aceh kembali memberikan kepercayaan kepadanya, kali ini sebagai Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Aceh I melalui Partai Persatuan Pembangunan.
Di Senayan, cakrawala politiknya semakin luas. Ia tidak hanya berbicara mengenai Banda Aceh, tetapi juga memperjuangkan berbagai kepentingan masyarakat Aceh di tingkat nasional. Pengalaman itu memperkaya cara pandangnya dalam melihat pembangunan, kebijakan publik, dan pentingnya membangun jejaring lintas daerah maupun lintas kementerian.
Pada Pemilu 2024, Illiza kembali maju sebagai calon anggota DPR RI. Perolehan suaranya sebenarnya cukup kompetitif. Namun nasib berkata lain. PPP tidak berhasil melewati ambang batas parlemen (parliamentary threshold), sehingga kesempatan untuk kembali duduk di Senayan pun sirna.
Boleh jadi, itulah cara Tuhan mengarahkan jalan pengabdiannya.
Saat satu pintu tertutup, Banda Aceh kembali memanggil.
Berpasangan dengan Afdhal Khalilullah, sosok muda yang santun dan enerjik, Illiza kembali meminta mandat rakyat untuk memimpin kota yang sangat dicintainya. Kerinduan masyarakat terhadap kepemimpinannya menjadi modal besar. Pada Pilkada 2024, pasangan ini memperoleh kepercayaan untuk kembali memimpin Banda Aceh.
Sejak kembali menjabat, aktivitasnya semakin padat. Hampir setiap hari ia turun langsung ke lapangan. Ia menyapa pedagang kecil, memberi ruang bagi UMKM lokal untuk tumbuh, mengunjungi lorong-lorong permukiman, memastikan pelayanan publik berjalan, hingga hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan.
Ada satu nilai yang terasa konsisten dalam kepemimpinannya. Filosofi orang Aceh, "Meunyoe na ata droe, keupeu ata gob"—jika ada milik sendiri, mengapa harus milik orang lain—seolah hidup dalam kebijakan-kebijakannya. Ia mendorong masyarakat agar mencintai, menggunakan, dan mengembangkan produk-produk lokal sebagai kekuatan ekonomi daerah.
Di sisi lain, Illiza mengusung semangat Kota Kolaborasi. Baginya, membangun Banda Aceh bukan pekerjaan pemerintah semata. Kota ini pernah bangkit dari tsunami berkat gotong royong masyarakat dunia. Pengalaman sejarah itu mengajarkan bahwa kolaborasi adalah fondasi yang membuat Banda Aceh kembali berdiri tegak.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kota; menjaga kebersihan, ketertiban, keamanan, lingkungan, serta merawat fasilitas publik yang telah dibangun. Sebab, keberhasilan sebuah kota bukan hanya diukur dari banyaknya proyek yang berdiri, tetapi juga dari kesadaran warganya untuk merawat hasil pembangunan.
Masa jabatan kali ini, sesuai konstitusi, menjadi kesempatan terakhir Illiza memimpin Banda Aceh sebagai wali kota. Undang-undang membatasi seorang kepala daerah menjabat paling lama dua periode.
Karena itu, setiap langkah yang diambil hari ini bukan sekadar menjalankan program pemerintahan, tetapi juga sedang menata warisan yang ingin ditinggalkan bagi generasi mendatang. Sebuah legacy yang diharapkan terus dikenang sebagai bagian dari perjalanan panjang Banda Aceh.
Sejarah mencatat, Aceh telah berkali-kali melahirkan tokoh-tokoh besar. Di antara mereka, selalu ada perempuan-perempuan tangguh yang hadir pada masanya, mengambil peran ketika dibutuhkan, dan mengabdikan diri bagi masyarakat.
Di era ini, salah satu nama itu adalah Illiza Sa'aduddin Djamal, seorang perempuan yang memilih menghabiskan tenaganya di jalan pengabdian, dan menjadi salah satu srikandi dari ujung Sumatera.[]