Salah satu hasil karya Bunay Ilhamullah yang di ambil dari ig @bumoe.fac.
Dari Jeans Bekas Jadi Produk Fesyen, Kreativitas Pemuda Banda Aceh Ini Raup Peluang Bisnis
Banda Aceh, Acehxpose.com | Celana jeans bekas yang sudah tidak terpakai kerap berakhir di tempat sampah. Namun, bagi Bunay Ilhamullah (23), potongan denim justru bisa menjadi bahan baku untuk menciptakan produk fesyen bernilai ekonomi.
Dari rumahnya di Banda Aceh, Bunay mengolah jeans bekas menjadi berbagai produk, mulai dari tas, pakaian, dompet, gantungan kunci hingga sepatu.
Deru mesin jahit pun menjadi bagian dari kesehariannya. Hampir setiap hari, ia mengolah potongan-potongan denim dengan teknik upcycling untuk menghasilkan produk baru yang memiliki nilai jual.
Bagi Bunay, usaha tersebut bukan hanya soal menciptakan produk fesyen. Ia ingin memberikan kehidupan kedua bagi pakaian bekas sekaligus mengajak masyarakat melihat limbah tekstil dari sisi yang berbeda.
“Limbah jeans bukan hanya sampah. Kalau diolah dengan kreativitas, masih bisa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Bunay.
Belajar Menjahit Secara Otodidak
Usaha berbasis fabric art tersebut mulai dirintis Bunay pada Agustus 2024. Modal awalnya diperoleh melalui program Pembinaan Internal Kewirausahaan (PIKU) Universitas Syiah Kuala.
Menariknya, Bunay tidak memiliki latar belakang pendidikan menjahit. Keterampilan tersebut justru dipelajarinya secara otodidak melalui media sosial.
Selain belajar secara mandiri, ia juga mendapat banyak pengetahuan dari sang ayah yang berprofesi sebagai penjahit.
Dari keterampilan yang awalnya dipelajari secara sederhana, Bunay kini mampu memproduksi sekitar 100 produk setiap bulan.
Seluruh proses produksi masih dikerjakannya sendiri. Mulai dari memilih dan mengolah bahan, mendesain, menjahit, hingga menghasilkan produk yang siap dipasarkan.
Produk-produk tersebut kemudian dipasarkan melalui media sosial serta sejumlah toko fesyen di Aceh.
Mengubah Limbah Menjadi Peluang
Kreativitas Bunay juga menjadi bagian dari upaya mendorong gaya hidup berkelanjutan melalui pemanfaatan kembali bahan yang masih memiliki nilai guna.
Ia melihat denim bekas sebagai material yang memiliki karakter kuat dan dapat dikombinasikan dengan berbagai bahan untuk menghasilkan produk dengan desain yang berbeda.
Konsep tersebut sejalan dengan semangat ekonomi sirkular di sektor fesyen, yakni memperpanjang usia pakai material sehingga tidak langsung berakhir sebagai limbah.
Bagi Bunay, langkah tersebut bisa dimulai dari hal sederhana, salah satunya dengan mengolah pakaian bekas menjadi barang yang kembali digunakan.
Melalui usaha yang dirintis dari rumah kontrakan, ia tidak hanya membangun peluang bisnis, tetapi juga membawa pesan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan industri fesyen.
Berharap Semakin Dikenal
Bunay berharap produk berbahan denim bekas yang dibuatnya dapat semakin dikenal masyarakat, tidak hanya di Banda Aceh tetapi juga di berbagai daerah.
Ia juga ingin semakin banyak orang memahami bahwa pakaian yang sudah tidak digunakan tidak selalu harus dibuang.
“Semoga semakin banyak masyarakat yang melihat pakaian bekas sebagai bahan yang masih bisa diolah menjadi produk baru dan bernilai ekonomi,” katanya.
Dengan kreativitas dan keterampilan yang terus dikembangkan, Bunay membuktikan bahwa peluang usaha bisa muncul dari bahan yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Dari jeans bekas, ia menciptakan tas, sepatu hingga aksesori. Dari sebuah mesin jahit di rumah, ia membangun usaha sekaligus memperkenalkan konsep fesyen yang lebih ramah lingkungan.
Bagi masyarakat yang ingin melihat dan mengenal produk-produk Bunay, hasil karyanya dipromosikan melalui akun Instagram @bumoe.fac.