ACEH X POSE
Gulai Bebek Versi Kearifan Lokal
Kuliner

Gulai Bebek Versi Kearifan Lokal

M
Maulana
5 menit baca 58 kali dibaca

Lima puluh tujuh hari pascabencana banjir dan longsor besar yang melanda Aceh, kami akhirnya tiba di Kabupaten Gayo Lues. Sebuah kabupaten yang letaknya nun jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota Provinsi di Banda Aceh, namun menyimpan kisah panjang tentang ketahanan, keterisolasian, dan harapan.

Akses menuju Negeri Seribu Bukit ini sejatinya telah direncanakan sejak lama oleh pemimpin Aceh terdahulu. Tujuannya hanya satu, konektivitas antar daerah pesisir ke daerah pegunungan di Aceh untuk perbaikan ekonomi masyarakat. Dimulai dari Program Jalan Terobosan pada masa Gubernur Ibrahim Hasan, Program Jalan Jaring Laba-Laba di masa Syamsuddin Mahmud, dilanjutkan proyek Jalan Ladia Galaska di era Abdullah Puteh, dan disempurnakan pada masa Nova Iriansyah, menjadikan Gayo Lues dapat ditempuh dari berbagai arah : melalui Takengon di Aceh Tengah, Peunaron - Lokop Aceh Timur, Kutacane Aceh Tenggara, hingga jalur Babahrot - Terangun dari Aceh Barat Daya.

Namun bencana mengubah segalanya.

Banjir dan longsor membuat Gayo Lues terisolasi total. Semua jalur darat terputus. Satu-satunya akses yang tersisa kala itu hanyalah jalur udara. Beberapa kampung bahkan lenyap disapu banjir dan longsor. Kecamatan Pining dan Terangun menjadi wilayah terdampak paling parah, luka akibat keserakahan manusia yang merusak alam masih terasa hingga hari ini.

Gayo Lues baru kembali bisa diakses pada 2 Desember 2025, setelah sekitar satu pekan terisolasi. Itu pun hanya bisa dilalui kendaraan roda empat melalui jalur Babahrot -Tongra - Terangun - Blangkejeren. Hingga kini, jalur dari Aceh Tengah dan Aceh Timur belum pulih. Jalur Kutacane bisa dilalui, namun masih dengan sistem buka-tutup karena sedang proses pengerjaan. Jika berangkat dari Banda Aceh, satu-satunya jalan hanyalah melalui Babahrot, Abdya.

Menurut warga yang kami temui, listrik sudah lama kembali normal, meski belum merata di semua kecamatan. Jaringan internet pun baru beberapa hari terakhir terasa lancar, itu pun kadang hilang timbul, “tergantung nasib sinyal,” ujar mereka.

Di hotel tempat kami menginap, sebuah obrolan panjang mengalir bersama petugas PLN asal Provinsi Bangka Belitung. Mereka berjumlah 17 orang, dikontrak per dua minggu. Ada pula tim dari Banten, Lampung, dan daerah lainnya. Fokus utama mereka saat ini adalah pemulihan listrik di kawasan Pining.

Saya sengaja memancing ceritanya. Saya ucapkan terima kasih karena telah datang jauh-jauh membantu saudara-saudara kami di Pining, lalu saya mengaku belum pernah ke sana. Ia langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Foto dan video diperlihatkan, kondisi Pining hari ini sungguh menyedihkan. Hingga kini, sebagian warga masih belum merasakan aliran listrik.

Medannya ekstrem. Curam. Banjir dan longsor menghancurkan segalanya, termasuk jalan yang dibangun dengan anggaran tahun jamak masa Gubernur Nova Iriansyah. Ia memperlihatkan video bagaimana mereka menanam tiang listrik secara manual.

“Tiang harus ditanam seperenam dari tinggi tiang, jadi kami harus menggali lubang sedalam dua meter,” katanya. Tiang besi seberat setengah ton itu ditarik menggunakan tali, manual, di tepi jurang. “Kami kerja di samping jurang, Bang,” ujarnya dengan nada penuh semangat. Baru beberapa hari terakhir crane tiba. Kini satu tiang bisa berdiri dalam 15 menit. Dulu, semuanya dikerjakan dengan tenaga manusia, menggali tanah bercampur batu. Setelah Pining, mereka akan bergerak ke kawasan Pantan Cuaca. Ia memperkirakan pemulihan listrik di Pining membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu lagi. “Tapi kami tetap berusaha secepat mungkin, kasihan warga, Bang.”

Cerita tentang para petugas PLN sebenarnya jauh lebih panjang, penuh sisi kemanusiaan yang layak dituliskan satu per satu. Namun fase ini adalah masa pemulihan. Semua komponen bangsa sedang bergerak bersama. Dan seperti biasa, Aceh selalu punya cara untuk bangkit dari keterpurukan.

Di tengah semua itu, aroma durian asal Pining yang dijajakan di pinggir jalan tak mampu mengalihkan fokus saya. Tujuan kami satu, makan siang.

Kami diajak mencicipi daging bebek khas Gayo Lues. Karena tak sempat melakukan pemesanan, kami harus datang lebih awal. Jam di tangan menunjukkan pukul 11.30 WIB. “Kalau telat, habis,” begitu pesan singkat yang kami terima sebelumnya.

Begitu tiba, mata saya langsung tertuju pada sebuah papan sederhana, "Kedai Nasi Pak Ondon". Kami bergegas masuk dan langsung memesan. Beruntung, masih tersisa lima porsi. Tepat setelah kami, satu rombongan lagi datang. Pemilik warung langsung berseru sambil tertawa, “Sudah habis, Boss. Besok balik lagi ya. Kan ada nomor WA, kenapa tidak dibooking saja. Pak Ondon ini, Boss,” katanya terkekeh.

Tak lama berselang, hidangan tersaji. Nasi dibungkus daun berbentuk persegi panjang. Kuah bebek caer tampil menggoda. Telur dadar digoreng menggunakan daun tanpa minyak. Sambal tomat berpadu pete asap. Ayam kampung muda dipanggang. Dan ketika suapan pertama masuk ke mulut, rasanya langsung menggelegar. Enak. Sekali.

Kuah bebeknya saya beri nilai sempurna, 100. Rempahnya sederhana, tapi kaya rasa. Pedasnya pas. Asamnya hadir jelas. Wanginya menggoda. Saya tak ragu menyeruput kuah bebek yang dimasak Pak Ondon menggunakan kayu tusam. Bagi pencinta bebek, rasanya ada yang kurang jika belum pernah mencicipi bebek caer racikan Pak Ondon.

Selesai makan dan mencuci tangan, saya menuju dapur. Mengucapkan terima kasih atas sajian luar biasa nikmat itu, sambil sedikit bertanya-tanya.

“Saya mulai usaha ini tujuh tahun lalu,” ujarnya. Tahun 2024, ia meraih Juara I Lomba Kuliner Tingkat Provinsi Aceh. Wajan yang terlihat hitam legam itu karena dibakar arang batok kelapa dan kayu tusam ikut ia bawa ke Banda Aceh saat lomba.

Saya bertanya mengapa ia tidak memasak dalam jumlah lebih banyak, padahal banyak rombongan tak kebagian. Setidaknya lima rombongan, masing-masing lima hingga enam orang yang pulang dengan raut kecewa. Pak Ondon menjawab tanpa ragu, “Saya menjaga kualitas. Buat apa dipaksakan. Saya masak semampu saya, sesuai pesanan sehari sebelumnya, dan saya lebihkan sedikit untuk yang datang cepat. Kalau datang telat, berarti belum rezeki.”

Ia memasak dengan sepenuh hati, saya melihat sendiri di dapur sederhana itu ia meracik bumbu dengan semangat kualitas dan persembahan terbaik kepada pelanggan. Maka hasilnya menjadi maksimal.

Lezatnya bebek Pak Ondon masih tertinggal di tenggorokan, masih terasa lengket di lidah. Setelah membayar, kami pamit, dengan satu harapan sederhana, semoga suatu hari nanti, kembali ke Gayo Lues, untuk sekali lagi menyantap gulai bebek yang dimasak dengan kearifan lokal, kesabaran, dan penuh rasa.[]

Sarah Juli, 22 Januari 2026.

Sumber _ Facebook Mirza Dekyang Ferdian

Berita Terkait