Mie Jalak Sabang, Sajian Kuah Bening yang Diam-Diam Bikin Rindu
Jika berbicara tentang kuliner Aceh, kebanyakan orang langsung membayangkan semangkuk Mie Aceh dengan kuah kari pekat, rempah kuat, dan rasa pedas yang menggigit. Namun di Sabang, ada satu sajian mie yang justru tampil sederhana, ringan, tetapi diam-diam membuat orang rindu untuk kembali mencicipinya. Namanya adalah Mie Jalak Sabang.
Kuliner khas Pulau Weh ini mungkin tidak sepopuler Mie Aceh di mata wisatawan nasional. Namun bagi masyarakat lokal, Mie Jalak adalah comfort food sejati, hidangan hangat yang biasa dinikmati saat pagi maupun malam hari.
Saya pertama kali mencicipi Mie Jalak di Kedai Toko Pulau Baru, sebuah kedai sederhana yang sudah lama dikenal sebagai salah satu tempat terbaik menikmati kuliner legendaris ini. Letaknya berada di kawasan Jalan Perdagangan, pusat aktivitas warga Sabang. Dari luar, kedainya tampak biasa saja, dengan meja-meja sederhana dan suasana khas warung lama yang terasa akrab.
Namun begitu semangkuk Mie Jalak dihidangkan, aroma kaldunya langsung menguar lembut. Tidak menyengat rempah seperti Mie Aceh, melainkan menghadirkan wangi gurih yang terasa menenangkan.
Kuahnya bening, tetapi jangan salah, rasa kaldunya sangat kaya. Satu suapan pertama langsung menghadirkan sensasi hangat yang ringan di lidah. Mi kuning yang digunakan memiliki tekstur lembut dan kenyal, berpadu dengan tauge segar serta irisan daun bawang yang menambah aroma segar.
Yang paling khas tentu potongan ikannya. Biasanya menggunakan ikan pisang-pisang, ikan laut yang cukup populer di Sabang. Daging ikan dipotong kecil-kecil lalu dimasukkan ke dalam kuah, menciptakan perpaduan rasa gurih laut yang sangat khas.
Berbeda dengan mie kuah pada umumnya yang berat di bumbu, Mie Jalak justru terasa ringan dan bersih. Mungkin itu sebabnya makanan ini begitu cocok dinikmati di kota kecil seperti Sabang, yang ritme kehidupannya tenang dan santai.
Di meja makan, saya memperhatikan hampir semua pelanggan tampak menikmati mie mereka tanpa banyak bicara. Ada yang menyeruput kuah perlahan, ada pula yang menambahkan sambal dan jeruk nipis agar rasanya lebih segar. Suasana sederhana seperti itu justru membuat pengalaman kuliner terasa lebih autentik.
Harga Mie Jalak pun tergolong sangat ramah di kantong. Untuk seporsi mi kocok biasa, harganya sekitar Rp13 ribu. Sementara versi lengkap dengan tambahan telur dan ikan bisa dinikmati dengan harga sekitar Rp26 ribu. Dengan rasa dan pengalaman yang didapat, rasanya sulit untuk tidak menyebut kuliner ini sebagai hidden gem di Sabang.
Yang menarik, jam operasional kedai ini juga mengikuti ritme khas masyarakat Sabang. Kedai Toko Pulau Baru buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, lalu kembali buka pukul 16.30 hingga 22.00 WIB. Jeda panjang di siang hari menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat yang masih akrab dengan tradisi beristirahat setelah tengah hari.
Bagi wisatawan yang datang ke Sabang untuk menikmati pantai dan wisata bawah laut, mencicipi Mie Jalak adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan. Karena dari semangkuk mie sederhana ini, kita bisa merasakan sisi lain Sabang, bukan hanya tentang laut biru dan pulau tropis, tetapi juga tentang tradisi, kesederhanaan, dan cita rasa yang diwariskan turun-temurun.
Mie Jalak mungkin tidak tampil mewah. Namun justru dalam kesederhanaannya, kuliner ini menghadirkan kehangatan yang sulit ditemukan di tempat lain. Semangkuk kuah bening di ujung barat Indonesia, yang diam-diam menyimpan rasa nostalgia bagi siapa saja yang pernah menikmatinya.
Reporter : Pak Te