ACEH X POSE
Kak Na Mualem Dan Nuri Zulkifli Dalam  Promosi Wisata Sabang
Pariwisata

Kak Na Mualem Dan Nuri Zulkifli Dalam Promosi Wisata Sabang

M
Maulana
4 menit baca 45 kali dibaca

Sabang selalu punya cara sendiri untuk membuat orang jatuh hati. Bukan hanya karena lautnya yang biru atau panorama ujung barat Indonesia yang memesona, tetapi juga karena kehangatan orang-orangnya, cerita-cerita sederhananya, dan semangat masyarakatnya yang terus bergerak membangun daerah dengan cara mereka sendiri.

Pagi itu, perjalanan menuju Sabang dimulai dari Pelabuhan Ulee Lheue. Di tengah kesibukan para penumpang yang bersiap menyeberang ke Pelabuhan Balohan, ada sosok sederhana yang mencuri perhatian. Namanya Bang Muhammad, pedagang nasi bungkus yang setiap hari setia menawarkan dagangannya kepada para penumpang kapal.

Dengan logat Aceh yang hangat dan candaan khasnya yang “cagok”, Bang Muhammad bukan sekadar pedagang biasa. Ia menjadi bagian dari denyut kehidupan pelabuhan. Ketika beberapa anggota rombongan belum sempat sarapan sebelum berangkat, kehadiran Bang Muhammad menjadi penyelamat pagi itu. Di atas kapal, nasi bungkus sederhana itu terasa begitu nikmat, disantap sambil menikmati semilir angin laut menuju Pulau Weh.

Dari sosok seperti Bang Muhammad, kita belajar bahwa keramahan masyarakat Aceh adalah bagian dari pengalaman wisata itu sendiri. Cuaca cerah menyambut kedatangan Ibu Marlina Usman atau Kak Na Mualem di Kota Wisata Sabang. Senyum hangat Ketua TP PKK Sabang, Ibu Nuri Zulkifli, semakin menambah semangat untuk menjelajahi sisi lain pulau yang selama ini dikenal dengan wisata lautnya.

Banyak orang datang ke Sabang untuk menikmati Iboih, Pulau Rubiah, diving, snorkeling, atau dolphin trip. Namun kali ini perjalanan justru membawa langkah ke tempat yang berbeda, Gampong Ie Meule, Kecamatan Sukajaya. Di sebuah kebun sederhana milik Hendri dan istrinya, Lisa Umami, hamparan buah naga tumbuh subur di sisi rumah mereka. Siapa sangka, lahan yang dulunya hanya tanah kosong kini berubah menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Buah naga merah segar dipanen langsung dari pohonnya. Rasanya manis, segar, dan dalam bahasa Aceh disebut “meucrop barang”. Menariknya lagi, wisatawan bisa datang langsung ke kebun, memanen sendiri buah yang diinginkan, lalu menikmatinya di tempat dengan harga yang sangat bersahabat, hanya Rp25 ribu per kilogram.

Konsep wisata kebun seperti ini menjadi warna baru pariwisata Sabang. Bukan hanya menikmati alam, tetapi juga merasakan kehidupan masyarakat lokal secara langsung.

Tidak hanya kebun buah naga, Kak Na Mualem juga berkesempatan berkunjung ke kebun salak milik Bang Taha di Gampong Balohan, Kecamatan Sukakarya, pada Senin sore. Di tengah suasana kampung yang asri dan udara yang sejuk, kebun salak tersebut menjadi bukti lain bahwa sektor pertanian dan wisata alam di Sabang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

Kunjungan ke kebun-kebun milik warga seperti ini memperlihatkan bahwa Sabang tidak hanya menawarkan wisata bahari, tetapi juga wisata agro yang memberi pengalaman berbeda bagi para wisatawan. Pengunjung dapat melihat langsung proses budidaya, menikmati hasil panen segar, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat lokal yang ramah dan penuh semangat.

Kreativitas masyarakat Sabang juga terlihat di Gampong Aneuk Laot. Di sana, geliat UMKM tumbuh dengan penuh optimisme melalui gerai Cokbang yang dikelola Melan Deta Diansyah.

Produk cokelat asli Sabang ini bukan sekadar camilan atau oleh-oleh khas daerah. Cokbang adalah bukti bahwa anak muda Aceh mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tinggi dan berdaya saing.

Menariknya, unit usaha unggulan milik Koperasi Produsen Kakao Jaya Mandiri ini menjalankan seluruh proses secara mandiri, mulai dari kebun kakao hingga menjadi produk siap konsumsi. Tidak hanya cokelat batangan dan minuman cokelat, kulit kakao pun diolah menjadi minuman herbal kaya antioksidan yang dipercaya memiliki manfaat anti-aging.

Dari Sabang, lahir cerita tentang bagaimana potensi lokal bisa diolah menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Menjelang sore, suasana Gampong Aneuk Laot terasa semakin hidup. Anak-anak bermain riang di lapangan desa, sementara pedagang kecil menjajakan aneka jajanan di pinggir jalan. Tawa mereka menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana.

Di sela kegiatan, membeli jajanan dari pedagang kecil bukan hanya tentang menikmati makanan ringan, tetapi juga tentang mendukung UMKM masyarakat setempat agar terus tumbuh.

Sabang memang bukan hanya tentang laut dan pantai. Pulau ini juga tentang manusia-manusia kreatif yang terus bergerak menjaga harapan. Semangat itu juga terlihat saat meninjau hasil karya para perajin ecoprint di halaman Kantor Geuchiek Gampong Ie Meule. Dengan memanfaatkan kekayaan alam sekitar sebagai motif dan bahan pewarna alami, para pengrajin menghadirkan produk khas yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.

Pariwisata sejatinya bukan hanya menghadirkan wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Dari kebun buah naga, kebun salak, cokelat lokal, kerajinan ecoprint, hingga pedagang kecil di pelabuhan dan desa-desa wisata, semuanya menjadi bagian dari ekosistem wisata Sabang yang tumbuh dari rakyat.

Sabang hari ini bukan sekadar destinasi untuk dikunjungi. Sabang adalah cerita tentang semangat, kreativitas, dan harapan masyarakat di ujung barat Indonesia.

Dan ketika matahari mulai turun di ufuk Pulau Weh, satu hal terasa jelas, siapa pun yang datang ke Sabang tidak hanya membawa pulang foto-foto indah, tetapi juga kenangan tentang keramahan dan semangat hidup masyarakatnya.

Berita Terkait