ACEH X POSE
Pulau Rubiah, Antara Pariwisata dan Jejak Religi di Sabang
Pariwisata

Pulau Rubiah, Antara Pariwisata dan Jejak Religi di Sabang

M
Maulana
3 menit baca 42 kali dibaca

Di ujung barat Indonesia, di kawasan Pulau Weh, terdapat sebuah pulau kecil yang memikat dengan laut sebening kaca dan kisah sejarah yang melekat kuat di dalamnya. Pulau Rubiah bukan hanya destinasi wisata bahari yang terkenal di Sabang, tetapi juga ruang sunyi yang menyimpan jejak religi, sejarah haji, dan legenda masyarakat Aceh.

Nama Pulau Rubiah sendiri diambil dari seorang perempuan yang sangat dihormati masyarakat Aceh, yakni Siti Rubiah. Sosoknya dipercaya berasal dari Aceh Singkil dan menikah dengan Tengku Ibrahim, seorang ulama yang dikenal sebagai penyebar Islam di Pulau Weh. Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, pasangan ini dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan syiar Islam di kawasan tersebut.

Jejak keberadaan Siti Rubiah masih dapat ditemukan di pulau itu. Sebuah makam sederhana berdiri teduh di antara pepohonan, menjadi tempat yang kerap diziarahi masyarakat maupun wisatawan. Di samping makam terdapat batu prasasti bertuliskan:

“Makam Siti Rubiah merupakan sebuah pemakaman yang diperkirakan tempat terakhir untuk istri ulama yang berasal dari Singkil wafat pada tahun 1779.”

Nuansa religius begitu terasa ketika berada di kawasan makam. Debur ombak yang tenang berpadu dengan suasana hening, menghadirkan kesan damai bagi siapa saja yang datang. Tak sedikit pengunjung yang datang bukan hanya untuk menikmati wisata laut, tetapi juga untuk mengenang sejarah dan mengambil hikmah dari perjalanan dakwah para ulama terdahulu.

Namun Pulau Rubiah bukan hanya tentang kisah religi. Pulau kecil ini juga menyimpan catatan penting dalam sejarah perjalanan haji di Nusantara. Pada masa penjajahan Belanda, Pulau Rubiah dikenal sebagai salah satu dari dua tempat karantina haji tertua di Indonesia, bersama Pulau Onrust.

Di masa itu, jamaah haji asal Aceh dan wilayah sekitarnya harus menjalani masa karantina sebelum berangkat maupun setelah pulang dari Tanah Suci. Pemerintah kolonial menerapkan kebijakan tersebut untuk mengantisipasi penyebaran penyakit menular yang dibawa melalui perjalanan laut jarak jauh. Kini, sisa-sisa bangunan karantina itu masih dapat ditemukan di Pulau Rubiah. Bekas pondasi bangunan dan bak penampungan air menjadi saksi bisu perjalanan panjang ribuan jamaah haji pada masa lalu. Meski sebagian bangunan telah mulai rusak dimakan usia, kisah sejarahnya tetap hidup dalam ingatan masyarakat setempat.

Di balik nilai sejarah dan religiusnya, Pulau Rubiah juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Pulau ini dikenal sebagai surga wisata bawah laut di Sabang. Air lautnya yang jernih memperlihatkan hamparan terumbu karang berwarna-warni dan ikan-ikan tropis yang berenang bebas. Aktivitas snorkeling dan diving menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang datang.

Perpaduan antara sejarah, legenda, dan keindahan alam membuat Pulau Rubiah memiliki pesona yang berbeda dibanding destinasi wisata lainnya. Dalam satu perjalanan, pengunjung dapat menikmati tenangnya wisata religi, menyusuri jejak sejarah karantina haji, sekaligus menikmati panorama laut yang memukau.

Pulau Rubiah seolah mengajarkan bahwa sebuah destinasi wisata tidak hanya tentang keindahan yang tampak di mata, tetapi juga tentang cerita yang hidup di baliknya. Di pulau kecil ini, sejarah dan alam berjalan beriringan, menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan bagi siapa pun yang menjejakkan kaki di sana.

Berita Terkait