Kak Ni, Legenda Kuliner Jantho
Perjalanan menuju Kota Jantho siang itu ditempuh sekitar 15 menit dari Banda Aceh melalui jalan TOL. Tujuan utama sebenarnya adalah urusan dinas, tetapi seperti biasa, setiap perjalanan selalu menyisakan satu agenda yang tidak tertulis: berburu kuliner khas daerah.
Sejak berangkat, pilihan tempat makan sudah bulat. Begitu waktu makan siang tiba, kami sepakat untuk menuju Warung Kak Ni, sebuah rumah makan sederhana yang namanya sudah lama beredar dari mulut ke mulut di kalangan pecinta kuliner Aceh Besar.
Tak sulit menemukan lokasinya jika bertanya kepada warga sekitar. Namun, bagi pendatang yang baru pertama kali datang, mungkin akan sedikit ragu. Bangunannya bukan berupa ruko atau restoran dengan papan nama besar. Warung ini justru berdiri di sebuah rumah tua yang sederhana, tanpa plang mencolok di bagian depan.
Kesederhanaan itulah yang menjadi kesan pertama saat kami melangkah masuk. Di balik dapur yang terus mengepulkan aroma masakan khas Aceh, berdirilah sosok yang menjadi alasan banyak orang rela kembali ke Jantho hanya untuk makan siang. Namanya Ruhani. Namun hampir semua pelanggan mengenalnya dengan panggilan akrab, Kak Ni.
Usianya kini telah menginjak sekitar 70an tahun. Meski demikian, semangatnya melayani pelanggan masih terlihat jelas. Bersama anak-anaknya, ia meneruskan usaha kuliner keluarga yang telah berjalan hampir setengah abad.
Daya tarik utama Warung Kak Ni tentu saja terletak pada hidangan yang tersaji di atas meja. Berbagai masakan khas Aceh sudah terhidang rapi dan pelanggan tinggal memilih sesuai selera.
Ada ayam goreng kampung yang gurih dan renyah, ikan suree goreng yang menggoda, kareng teupeuleumak dengan kuah santan khas, keumamah yang menjadi ikon kuliner Aceh, hingga gulee rampoe yang kaya rempah. Tak ketinggalan kuah suree tumis, peyek udang yang renyah, serta beragam lauk lain yang membuat mata dan perut sulit diajak kompromi.
Konsep penyajiannya sederhana, layaknya makan di rumah sendiri. Suasana hangat khas rumah keluarga terasa begitu kuat. Tidak ada dekorasi mewah ataupun tata ruang modern. Namun justru kesan rumahan itulah yang membuat pengalaman bersantap terasa lebih akrab.
Saat menyantap hidangan, kami sempat mendengar kisah hidup Kak Ni. Suaminya, Usman, meninggal dunia pada tahun 2005 ketika Kak Ni sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Sejak saat itu, ia bersama anak-anaknya terus mempertahankan usaha yang telah menjadi bagian dari sejarah kuliner Jantho.
Bagi banyak pelanggan, Warung Kak Ni bukan sekadar tempat makan. Ia adalah bagian dari kenangan perjalanan menuju atau dari Jantho. Tak sedikit yang mengaku selalu menyempatkan diri singgah setiap kali melintas di kawasan tersebut.
Ketika makan siang usai dan perjalanan kembali ke Banda Aceh harus dilanjutkan, rasa masakan Kak Ni masih tertinggal. Gurih ayam kampung goreng seolah belum hilang dari ujung lidah, sementara kuah leumak yang kami santap masih meninggalkan jejak rasa yang sulit dilupakan.
Mungkin itulah alasan mengapa Warung Kak Ni tetap bertahan hingga puluhan tahun. Bukan karena bangunannya yang megah atau promosi yang gencar, melainkan karena satu hal yang selalu dicari para pemburu kuliner: cita rasa yang jujur dan konsisten.
Jika suatu hari berkunjung ke Kota Jantho, sempatkanlah singgah. Di sebuah rumah sederhana tanpa papan nama besar, tersimpan salah satu cerita rasa yang telah menghidupi kenangan banyak orang selama hampir 50 tahun.