Mie Sure Laweung, Perpaduan Sederhana yang Menghadirkan Rasa Istimewa
Di tengah menjamurnya kafe modern dan restoran kekinian, ternyata kenikmatan kuliner sejati masih bisa ditemukan di sudut-sudut kampung yang sederhana. Itulah yang saya rasakan saat berkunjung ke Gampong Ujong Pie, Kecamatan Muara Tiga, Laweung, Kabupaten Pidie. Di sana, ada semangkuk mie tongkol legendaris yang membuat banyak orang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk menikmati seporsinya.
Perjalanan menuju warung ini terasa begitu menyenangkan. Lokasinya berada tepat di bibir pantai, ditemani semilir angin laut dan pemandangan perahu nelayan yang hilir mudik mencari ikan segar. Suasana seperti ini tentu menjadi pengalaman yang jarang ditemukan di tempat makan modern.
Pemilik warung tersebut adalah Karimuddin, seorang pria sederhana yang telah menggeluti usaha mie selama lebih dari dua dekade. Sambil menunggu pesanan dimasak, saya menyempatkan diri berbincang dengannya. Dengan senyum ramah, ia bercerita bahwa dirinya mulai berjualan sejak masih duduk di bangku SMA. "Saya mulai jualan sejak umur 17 tahun. Dari dulu sampai sekarang, ya tetap jual mie," ujarnya.
Keputusan meninggalkan bangku sekolah ternyata menjadi titik awal perjalanan panjang Karimuddin sebagai pelaku usaha kuliner. Berkat ketekunan dan kerja keras, warung kecilnya kini dikenal luas oleh masyarakat dari berbagai daerah.
Yang membuat tempat ini unik adalah konsepnya yang berbeda dari warung mie pada umumnya. Para pelanggan yang ingin menikmati mie tongkol harus membeli ikan tongkol segar terlebih dahulu dari nelayan yang berada tidak jauh dari lokasi. Setelah itu, ikan dibersihkan dan diolah langsung di warung.
Dalam menjalankan usaha, Karimuddin tidak sendirian. Sang istri, Habibah, selalu setia mendampinginya. Tugas Habibah adalah membersihkan ikan tongkol yang dibawa pelanggan sebelum dimasak.
Menurut Habibah, pada hari biasa mereka bisa menghabiskan sekitar delapan kardus mie instan. Sementara saat musim liburan atau Lebaran, jumlahnya bisa meningkat hingga dua belas kardus dalam sehari.
"Kalau ramai, suami saya sampai tidak sempat makan siang karena pelanggan terus berdatangan," katanya.
Tak lama kemudian, pesanan yang saya tunggu akhirnya tiba. Dari tampilannya saja sudah sangat menggoda. Kuah berwarna kuning keemasan tampak kental dan kaya rempah. Potongan ikan tongkol segar yang melimpah berpadu dengan taburan cabai rawit yang menambah aroma menggugah selera.
Suapan pertama langsung memberikan kejutan. Daging tongkol yang lembut berpadu sempurna dengan kuah gurih yang meresap hingga ke dalam mie. Sensasi pedas cabai rawit datang perlahan dan membuat cita rasanya semakin lengkap. Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa semangkuk mie ini mampu menghapus rasa lelah setelah perjalanan panjang. Setiap suapan menghadirkan rasa gurih, pedas, dan segar yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di era 2026 ketika banyak makanan viral bermunculan di media sosial hanya karena tampilannya menarik, mie tongkol Laweung justru menawarkan sesuatu yang lebih penting: rasa autentik, bahan segar, dan cerita perjuangan yang nyata di balik setiap porsinya.
Jika Anda sedang berlibur ke Pidie atau melintasi kawasan Laweung, sempatkanlah mampir ke warung sederhana ini. Jangan tertipu oleh penampilannya yang sederhana, karena di balik warung kecil pinggir pantai tersebut tersimpan salah satu kuliner yang layak masuk daftar wajib coba di Aceh tahun ini.
Percayalah, setelah mencicipinya, Anda akan paham mengapa banyak orang rela mengantre demi semangkuk mie tongkol legendaris dari Ujong Pie.