ACEH X POSE
Rex Peunayong Kembali Bergeliat, 35 Tenant dan 400 Menu Ramaikan Pusat Kota Banda Aceh
Ekonomi & Bisnis

Peresmian Rex Premium Kopi oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal pada Selasa (22/9/2026). Foto : Ist.

Rex Peunayong Kembali Bergeliat, 35 Tenant dan 400 Menu Ramaikan Pusat Kota Banda Aceh

M
Maulana
• • 3 menit baca

Banda Aceh, Acehxpose.com | Rex Peunayong bukan sekadar nama sebuah kawasan kuliner. Bagi warga Banda Aceh, Rex merupakan bagian dari ingatan kota—tempat orang datang untuk makan, berkumpul, berbincang, hingga menikmati geliat kehidupan di pusat kota.

Kini, kawasan yang dikenal sebagai pusat kuliner pertama di Kota Banda Aceh itu kembali menatap masa depan.

Peresmian Rex Premium Kopi oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal pada Selasa (22/9/2026) menjadi penanda dimulainya babak baru kawasan Rex.

Wajah Rex kini diarahkan lebih modern dengan menghadirkan puluhan tenant kuliner dan ratusan pilihan menu. Namun, yang hendak dihidupkan bukan sekadar aktivitas perdagangan.

Pemerintah Kota Banda Aceh melihat Rex sebagai ruang publik yang dapat mempertemukan kuliner, UMKM, seni, budaya, pariwisata, dan berbagai kegiatan masyarakat.

“Ini adalah tempat yang sentral. Multi-event bisa dilaksanakan di sini, seperti kegiatan politik, kegiatan para seniman dan budayawan, dan berbagai kegiatan masyarakat lainnya,” kata Illiza.

Dari pusat kuliner menuju ikon kota

Letaknya di Peunayong membuat Rex memiliki posisi strategis. Kawasan ini berada di salah satu bagian penting pusat Kota Banda Aceh dan dikelilingi aktivitas perdagangan serta perhotelan.

Posisi tersebut membuka peluang bagi Rex untuk tidak hanya menjadi tempat makan warga lokal, tetapi juga menjadi salah satu tujuan wisata kuliner bagi wisatawan yang datang ke Banda Aceh.

Illiza mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh mengapresiasi investasi yang masuk untuk menghidupkan kembali Rex.

“Atas nama Pemerintah Kota Banda Aceh, tentunya kami mengapresiasi dan berterima kasih atas investasi yang telah diberikan untuk menghidupkan kembali Rex,” ujar Illiza.

Menurut dia, keberadaan investasi baru di kawasan tersebut dapat menjadi pemicu bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus menghidupkan kembali ruang-ruang publik di pusat kota.

“Kita berharap semakin banyak investasi yang masuk dan tempat-tempat yang telah disediakan dapat diisi serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

35 tenant, 400 pilihan menu

Babak baru Rex juga ditandai dengan hadirnya Rex Premium Kopi.

Pemilik Rex Premium Kopi, Jufrizal, mengatakan saat ini terdapat 35 tenant yang menawarkan lebih dari 400 pilihan menu.

Jumlah tersebut membuat Rex memiliki potensi untuk berkembang menjadi salah satu pusat kuliner dengan pilihan makanan yang beragam di Banda Aceh.

Namun, Jufrizal mengatakan orientasi Rex tidak berhenti pada bisnis kuliner. Kawasan tersebut juga disiapkan sebagai ruang pembinaan dan pengembangan UMKM.

“Rex ini sebagai salah satu tempat pembinaan UMKM,” kata Jufrizal.

Konsep itu membuat Rex memiliki peran yang lebih luas. Pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan ruang untuk berjualan, tetapi juga berpeluang memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung dari berbagai daerah.

Menghidupkan kembali denyut Peunayong

Jika dikelola secara berkelanjutan, Rex memiliki peluang menjadi lebih dari sekadar sentra makanan.

Kawasan ini dapat menjadi titik temu kuliner khas Aceh dengan kreativitas generasi muda, menjadi ruang pertunjukan seni dan budaya, sekaligus menjadi bagian dari pengalaman wisatawan ketika menjelajahi Banda Aceh.

Bagi pemerintah kota, menghidupkan Rex juga berarti menghidupkan kembali salah satu ruang yang memiliki posisi penting dalam perjalanan kota.

Karena itu, masa depan Rex tidak hanya bergantung pada ramainya tenant dan jumlah pengunjung.

Yang lebih penting adalah bagaimana kawasan ini dapat terus menjadi ruang yang hidup—tempat UMKM tumbuh, pelaku seni berkarya, wisatawan datang, dan warga Banda Aceh kembali menjadikannya bagian dari keseharian.

Rex Peunayong pernah menjadi pusat kuliner pertama di Banda Aceh. Kini, dengan wajah baru, kawasan itu sedang mencoba menulis babak berikutnya: bukan sekadar menghidupkan kembali masa lalu, tetapi menjadikan sejarah tersebut sebagai modal untuk membangun ikon kuliner dan ruang publik Banda Aceh di masa depan.

Berita Terkait