ACEH X POSE
Santri Diminta Jaga NKRI dan Perdamaian Aceh, Jadi Benteng Akidah di Perbatasan
Agama

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin S.Pd.I., M.Pd.I., saat menjadi inspektur Apel Tahunan Dayah Perbatasan Darul Amin di Aceh Tenggara, Kamis (20/8/2026). Foto : Humas Dayah

Santri Diminta Jaga NKRI dan Perdamaian Aceh, Jadi Benteng Akidah di Perbatasan

M
Maulana
3 menit baca

Aceh Tenggara, Acehxpose.com | Pemerintah Aceh mengajak para santri dan ulama untuk terus menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus merawat perdamaian Aceh yang telah terbangun.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin S.Pd.I., M.Pd.I., saat menjadi inspektur Apel Tahunan Dayah Perbatasan Darul Amin di Aceh Tenggara, Kamis (20/8/2026).

Apel tahunan tersebut diikuti para santri, orang tua santri, dewan guru, serta sejumlah tamu undangan.

Dalam amanatnya, Muhsin mengatakan perjalanan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran santri dan ulama. Perjuangan tersebut tidak hanya dilakukan melalui perlawanan terhadap penjajahan, tetapi juga melalui pendidikan dan pembentukan karakter generasi bangsa.

“Pesantren memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa, mulai dari perjuangan melawan penjajahan, merebut kemerdekaan, hingga mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Muhsin.

Menurutnya, dayah memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pemahaman agama, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negara.

Karena itu, santri diharapkan meneruskan semangat perjuangan para pendahulu melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pengabdian kepada masyarakat, serta menjaga persaudaraan sesama anak bangsa.

Muhsin mengatakan tantangan yang dihadapi santri saat ini berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui perlawanan fisik, kini santri menghadapi tantangan zaman melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kemampuan menyelesaikan berbagai persoalan sosial.

“Jihad hari ini tidak lagi kita artikan sebagai pertempuran fisik dengan mengangkat senjata, tetapi perjuangan intelektual yang penuh semangat dalam membantu umat menyelesaikan problematika kehidupan,” katanya.

Menurut Muhsin, upaya tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan dayah yang memperkuat pemahaman agama, ilmu pengetahuan, akhlak, wawasan kebangsaan, serta nilai-nilai perdamaian.

Ia berharap para santri terus berkarya dan mengambil bagian dalam pembangunan bangsa. Silaturahmi dan persaudaraan juga perlu terus dirawat sebagai modal penting dalam menjaga persatuan.

Santri Diminta Rawat Perdamaian Aceh

Selain menjaga keutuhan NKRI, Muhsin secara khusus mengingatkan para santri untuk ikut merawat perdamaian Aceh yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade.

Menurutnya, nilai-nilai perdamaian perlu ditanamkan kepada generasi muda agar pengalaman konflik masa lalu menjadi pelajaran dan tidak kembali terulang.

“Jaga keutuhan dan kesatuan NKRI, hormati Pancasila, UUD 1945, amalkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan hormati pula perjanjian damai MoU Helsinki sebagai bagian penting dari perjalanan perdamaian Aceh,” ujar Muhsin.

Ia menilai santri memiliki peran penting dalam menjaga suasana damai karena pendidikan dayah tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat pengabdian atau khidmah kepada masyarakat.

Jadi Benteng Akidah di Perbatasan

Muhsin juga mendorong para santri Dayah Perbatasan Darul Amin untuk menjadi benteng akidah sekaligus penjaga nilai kebangsaan di wilayah perbatasan Aceh.

Menurutnya, keberadaan dayah di kawasan perbatasan memiliki arti strategis. Selain menjadi pusat pendidikan Islam, dayah dapat menjadi ruang pembinaan generasi muda agar memiliki pemahaman agama yang kuat, berakhlak, mencintai tanah air, dan mampu menjaga perdamaian.

“Santri harus menjadi pelopor perdamaian dan keadilan serta mampu menjadi benteng akidah di wilayah perbatasan,” katanya.

Dengan bekal pendidikan agama, ilmu pengetahuan, dan wawasan kebangsaan, santri diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus berkontribusi dalam pembangunan daerah dan bangsa.

Apel Tahunan Dayah Perbatasan Darul Amin berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan tersebut turut dihadiri Pimpinan Dayah Perbatasan Darul Amin, Abuya Muchlisin Desky, bersama dewan guru, orang tua santri, serta tamu undangan lainnya.

Rangkaian kegiatan yang melibatkan para santri menjadi penegas bahwa dayah di wilayah perbatasan tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter, penguatan akidah, penanaman semangat kebangsaan, dan pewarisan nilai-nilai perdamaian Aceh untuk generasi mendatang.

Berita Terkait