Imran Pase saat bersama Ketua Umum Partai Aceh Muzakkir Manaf (Mualem). Foto : Ist.
Imran Pase, Dari Medan Juang ke Ruang Digital
Di tengah derasnya arus media sosial yang dipenuhi perdebatan, kritik, hingga serangan terhadap tokoh dan partai politik, nama Imran Pase menjadi salah satu sosok yang nyaris tak pernah absen ketika Partai Aceh mendapat sorotan. Bagi sebagian orang, ia dikenal sebagai pribadi yang vokal. Namun bagi mereka yang mengenalnya lebih dekat, Imran adalah representasi dari satu nilai yang kini semakin langka: loyalitas.
Pria asal Nisam, Kabupaten Aceh Utara itu bukan tipe kader yang hanya muncul ketika partai sedang berjaya. Ia justru lebih sering terlihat ketika badai menerpa. Saat isu-isu miring menghantam Partai Aceh maupun para pimpinannya, Imran hampir selalu berada di barisan depan, memberikan penjelasan, membantah tudingan, bahkan berdebat sengit dengan para netizen di media sosial.
Bagi Imran, semua itu bukan sekadar aktivitas di dunia maya. Ada nilai yang tertanam sejak lama.
"Kami diajarkan untuk setia dan loyal," ujarnya.
Kalimat sederhana itu menjadi prinsip hidup yang terus ia pegang hingga hari ini.
Tak heran bila linimasa media sosialnya kerap dipenuhi argumentasi panjang dalam membela partai yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Ia tidak mencari popularitas, apalagi sensasi. Yang ia lakukan hanyalah menjalankan keyakinannya sebagai kader yang merasa memiliki tanggung jawab moral menjaga marwah perjuangan.
Mentalitas seperti yang dimiliki Imran bukan sesuatu yang mudah ditemukan. Di era ketika banyak orang mudah berpindah haluan demi kepentingan sesaat, ia memilih tetap berdiri di tempat yang sama. Tidak pernah berpaling dari geunareh perjuangan yang diyakininya.
Rekam jejaknya pun menjadi bukti. Sejak bergabung dalam perjuangan hingga kini aktif sebagai kader Partai Aceh, Imran dikenal konsisten. Berbagai tekanan, caci maki, bahkan ancaman, bukanlah hal baru baginya.
"Ancaman kekerasan, baik fisik maupun psikis, sudah biasa. Itu risiko yang saya ambil. Apalagi saya pernah mengambil risiko mati saat menjadi pasukan GAM dulu, Bang," tuturnya.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Ia lahir dari pengalaman panjang seorang mantan kombatan yang pernah mempertaruhkan nyawa demi cita-cita perjuangan Aceh. Karena itu, menghadapi serangan di media sosial atau intimidasi terhadap dirinya, menurut Imran, hanyalah risiko kecil dibanding masa-masa yang pernah ia lalui.
Di mata banyak kader, loyalitas bukan sekadar bertahan ketika keadaan nyaman, melainkan tetap berdiri tegak ketika partai menghadapi ujian. Dan dalam konteks itu, Imran Pase menjadi salah satu contoh nyata.
Terlepas dari beragam pandangan politik yang ada, sosok Imran memperlihatkan bahwa komitmen terhadap organisasi dibangun oleh keyakinan, konsistensi, dan keberanian memikul konsekuensi atas pilihan yang diambil.
Di tengah dinamika politik Aceh yang terus berubah, Imran Pase memilih satu jalan yang menurutnya tidak pernah berubah: tetap setia kepada Partai Aceh dan para pemimpinnya, sebagaimana nilai loyalitas yang diwariskan dalam perjalanan panjang perjuangan.[]