ACEH X POSE
Kadisdik Aceh Murthalamuddin Dapat Penghargaan Nasional, Ini Alasannya
Trending

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menerima penghargaan nasional sebagai Pemerhati Pendidikan dan Praktik Baik Sastra, Bahasa, dan Budaya Tahun 2026 di Jakarta. Foto : Ist.

Kadisdik Aceh Murthalamuddin Dapat Penghargaan Nasional, Ini Alasannya

M
Maulana
3 menit baca

Banda Aceh, Acehxpose.com | Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menerima penghargaan nasional sebagai Pemerhati Pendidikan dan Praktik Baik Sastra, Bahasa, dan Budaya Tahun 2026.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam sebuah acara di Aula Sasadu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (10/8/2026).

Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Murthalamuddin dalam mendorong pengembangan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan akademik, tetapi juga berjalan beriringan dengan penguatan bahasa, sastra, dan kebudayaan.

Penyerahan penghargaan tersebut berlangsung dalam rangkaian kegiatan yang melibatkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama Pertemuan Penyair Nusantara XIV, Kementerian Kebudayaan, dan Kementerian Ekonomi Kreatif.

Bukan untuk Diri Sendiri

Murthalamuddin mengatakan penghargaan tersebut tidak dimaknainya sebagai pencapaian pribadi. Ia justru menyebut apresiasi itu sebagai penghargaan terhadap kerja kolektif para guru, kepala sekolah, pegiat literasi, sastrawan, budayawan, serta seluruh elemen pendidikan di Aceh.

“Ini bukan penghargaan personal. Ini apresiasi untuk guru, kepala sekolah, pegiat literasi, sastrawan, budayawan, dan seluruh ekosistem pendidikan Aceh,” kata Murthalamuddin.

Menurut dia, pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Sekolah, kata dia, bukan hanya tempat peserta didik mengejar pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter sekaligus mengenalkan identitas dan akar budaya.

“Pendidikan harus maju, tetapi tidak boleh kehilangan akar budaya,” ujarnya.

Murthalamuddin menilai Aceh memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda. Manuskrip, hikayat, bahasa daerah, seni, tradisi tutur hingga warisan intelektual Islam, menurut dia, merupakan bagian dari kekayaan yang dapat memperkuat pendidikan berbasis literasi.

“Kekayaan itu harus semakin dekat dengan sekolah dan kehidupan anak-anak,” katanya.

Anak Aceh Tak Boleh Kehilangan Identitas

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang begitu cepat, Murthalamuddin berharap generasi muda Aceh mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Ia mendorong agar budaya membaca, menulis, berdiskusi, serta ruang kreativitas dan apresiasi terhadap karya sastra terus diperluas di lingkungan sekolah.

“Anak-anak kita harus adaptif terhadap zaman, tetapi tetap mengenal sejarah, bahasa, sastra, dan budayanya,” kata Murthalamuddin.

Ia juga menyoroti peran guru dalam membuat pembelajaran bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan lebih hidup. Materi pembelajaran, menurutnya, tidak semestinya berhenti pada hafalan, melainkan harus dikaitkan dengan kehidupan peserta didik.

“Guru harus menghadirkan pembelajaran yang menarik dan relevan dengan kehidupan peserta didik,” ujarnya.

Bagi Murthalamuddin, penghargaan yang diterimanya justru menjadi pengingat agar kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, pegiat literasi, sastrawan, dan budayawan semakin diperkuat.

Sebab, membangun pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan institusi sekolah. Dibutuhkan keterlibatan berbagai unsur agar pendidikan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter dan kecintaan terhadap daerahnya.

“Pendidikan adalah kerja bersama. Kolaborasi yang kuat akan melahirkan generasi yang berpengetahuan, berkarakter, dan mencintai daerahnya,” pungkas Murthalamuddin.

Berita Terkait