Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal di Hotel Al-Hanifi dalam Pelatihan Inovasi dan Pengembangan Desain Produk Berbasis Kearifan Lokal. Foto : Ist.
Kipas Bambu Jadi Peluang UMKM, Dekranasda Banda Aceh Dorong Produk Lokal Naik Kelas
Banda Aceh, Acehxpose.com | Upaya mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menghasilkan produk kreatif bernilai ekonomi terus dilakukan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Banda Aceh. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan souvenir kipas bambu berbasis kearifan lokal.
Pelatihan Inovasi dan Pengembangan Desain Produk Berbasis Kearifan Lokal tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu (20–22/8/2026), dan ditutup secara resmi oleh Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal di Hotel Al-Hanifi, Lampriet.
Sebanyak 20 peserta dari sembilan kecamatan di Kota Banda Aceh mengikuti pelatihan yang tidak hanya memberikan keterampilan membuat kerajinan, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk lokal menjadi komoditas UMKM yang memiliki nilai jual.
Para peserta yang merupakan unsur ibu-ibu Dekranasda mendapat pembelajaran sekaligus praktik mengolah bambu menjadi kipas souvenir. Produk tersebut kemudian dikembangkan dengan teknik rajut, benang warna-warni, serta lukisan ornamen Pintu Aceh menggunakan tinta.
Sentuhan motif khas Aceh membuat kipas bambu tidak sekadar menjadi barang kerajinan, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai souvenir yang membawa identitas budaya Banda Aceh.
Kegiatan yang mengusung tema “Pelestarian Warisan Budaya melalui Pengembangan Desain Kipas Souvenir Berbasis Motif Kota Banda Aceh” itu diharapkan mampu melahirkan produk kreatif yang dapat dipasarkan lebih luas sekaligus menjadi sumber tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengapresiasi pelatihan tersebut karena dinilai mampu mempertemukan tiga hal penting, yakni pelestarian budaya, kreativitas, dan peluang ekonomi masyarakat.
Menurutnya, perkembangan zaman harus berjalan seiring dengan upaya mempertahankan seni, budaya, dan sejarah yang menjadi identitas daerah.
“Perkembangan modern boleh, tetapi dasar dari seni, kebudayaan dan sejarah tidak boleh hilang oleh waktu. Setiap daerah mempunyai khas adat dan budaya masing-masing,” ujar Illiza.
Ia menilai keterlibatan perempuan dalam pengembangan kerajinan lokal juga memiliki peran strategis, terutama dalam mendorong lahirnya usaha rumahan yang dapat berkembang menjadi UMKM produktif.
Pelatihan tersebut menghadirkan Darmawan, perajin kipas bambu asal Yogyakarta, sebagai pemateri. Peserta mendapatkan pengetahuan mengenai teknik pembuatan sekaligus pengalaman mengembangkan desain agar produk kerajinan memiliki daya tarik pasar.
Dekranasda Banda Aceh berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi dapat dilanjutkan menjadi kegiatan usaha. Dengan inovasi desain dan pemanfaatan motif khas daerah, kerajinan lokal diharapkan mampu memiliki nilai tambah, daya saing, dan peluang pasar yang lebih luas.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat UMKM Banda Aceh dengan mengandalkan potensi lokal. Produk kerajinan yang mengangkat identitas budaya dinilai memiliki peluang untuk dipasarkan sebagai souvenir bagi wisatawan maupun sebagai produk kreatif khas Banda Aceh.