ACEH X POSE
Masjid Raya Baiturrahman, Saksi Sejarah Islam dan Perjuangan Rakyat Aceh
Politik

Gubernur Aceh 2012-2017 dr. H. Zaini Abdullah saat memantau revitalisasi Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Mei 2016. Foto : Azmi Murtala

Masjid Raya Baiturrahman, Saksi Sejarah Islam dan Perjuangan Rakyat Aceh

M
Maulana
4 menit baca

Banda Aceh, Acehxpose.com | Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar tempat ibadah yang berdiri megah di jantung Kota Banda Aceh. Masjid ini merupakan salah satu simbol penting peradaban Islam di Aceh sekaligus saksi panjang perjalanan sejarah masyarakat Aceh, dari masa Kesultanan Aceh, perang melawan kolonialisme, bencana tsunami, hingga berbagai pergulatan sosial dan politik.

Persebaran Islam di Nusantara merupakan salah satu fase penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ajaran Islam masuk dan berkembang secara bertahap melalui berbagai jalur, mulai dari perdagangan, pendidikan, tasawuf, akulturasi budaya, seni, hingga kekuasaan politik.

Jejak perjalanan tersebut hingga kini masih dapat ditemukan melalui berbagai benda dan bangunan bersejarah. Salah satu yang paling kuat merepresentasikan perjalanan peradaban Islam di Nusantara adalah Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh.

Masjid ini telah menjadi bagian penting dari sejarah Aceh selama berabad-abad. Dalam berbagai catatan sejarah, Masjid Raya Baiturrahman dikaitkan dengan masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam dan menjadi salah satu pusat kehidupan keagamaan serta peradaban masyarakat Aceh.

Menurut informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Masjid Raya Baiturrahman sempat dibakar oleh Belanda pada 1873 dalam Perang Aceh. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian kelam dalam sejarah masjid dan masyarakat Aceh.

Namun, karena posisi masjid yang sangat penting bagi masyarakat, Belanda kemudian membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman. Pembangunan dimulai pada 1879 dan selesai pada 1881.

Sejak saat itu, masjid tersebut terus menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Aceh. Kubah, menara, halaman luas dan arsitekturnya kemudian tidak hanya menjadi identitas Kota Banda Aceh, tetapi juga simbol keteguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai zaman.

Saksi Tsunami dan Keteguhan Aceh

Dalam sejarah modern, Masjid Raya Baiturrahman kembali menjadi saksi sebuah tragedi besar ketika tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004.

Di tengah kehancuran yang melanda Banda Aceh dan wilayah pesisir Aceh, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh. Masjid ini kemudian menjadi salah satu simbol keteguhan dan harapan masyarakat Aceh setelah bencana dahsyat tersebut.

Gambar Masjid Raya Baiturrahman yang tetap berdiri di tengah kawasan kota yang porak-poranda oleh tsunami bahkan menjadi salah satu gambaran paling kuat tentang tragedi tersebut.

Namun, sejarah masjid ini tidak berhenti pada kisah keagamaan dan bencana.

Dari Referendum hingga Pergulatan Politik Aceh

Masjid Raya Baiturrahman juga memiliki jejak kuat dalam perjalanan politik Aceh.

Pada masa gerakan referendum Aceh tahun 1999, kawasan Masjid Raya menjadi salah satu tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai daerah di Aceh. Saat itu, tuntutan referendum—termasuk aspirasi untuk menentukan masa depan Aceh melalui pilihan rakyat—mengemuka secara terbuka.

Kawasan masjid kembali menjadi saksi ketika masyarakat Aceh menyambut tokoh sentral Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tgk. Hasan di Tiro, setelah lebih dari tiga dekade berada di luar negeri.

Kepulangannya ke Aceh menjadi salah satu momentum bersejarah. Ratusan ribu masyarakat memadati kawasan Masjid Raya Baiturrahman untuk menyambut dan mendengarkan langsung tokoh yang selama puluhan tahun menjadi simbol perjuangan GAM tersebut.

Dari atas podium, Hasan di Tiro menyapa masyarakat dengan kalimat dalam bahasa Aceh, “Lon ka troh teuka di Aceh”—saya sudah tiba di Aceh.

Momen tersebut kemudian menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan sejarah politik Aceh, terutama menjelang babak baru perdamaian Aceh.

Masjid dan Air Mata Sejarah

Masjid Raya Baiturrahman juga menyimpan kisah-kisah lain yang tidak semuanya terang.

Di balik kemegahannya, terdapat cerita tentang konflik, kekerasan dan kehilangan nyawa. Salah satunya adalah kisah Jenderal Teuku Djohan yang disebut menjadi korban penembakan setelah melaksanakan ibadah di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.

Ia ditembak dari jarak dekat menggunakan senjata laras pendek. Tiga luka tembak di bagian kepala membuat korban meninggal dunia di tempat.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa bangunan ini bukan hanya menyimpan sejarah kejayaan, tetapi juga menyimpan air mata dan kepedihan masyarakat Aceh.

Karena itu, ketika terjadi kericuhan dalam aksi demonstrasi pada 15 Agustus 2026, keberadaan Masjid Raya Baiturrahman kembali mengingatkan masyarakat pada peran panjangnya dalam sejarah Aceh.

Masjid ini bukan sekadar bangunan tempat umat Islam menunaikan salat. Ia telah menjadi ruang tempat masyarakat berkumpul, menyampaikan aspirasi, menyaksikan pergolakan zaman, sekaligus mencari ketenangan ketika Aceh berada dalam situasi sulit.

Masjid Raya Baiturrahman merupakan bagian dari identitas Aceh.

Ia menjadi saksi perkembangan Islam, kejayaan Kesultanan Aceh, perang melawan kolonialisme, tragedi tsunami, pergulatan politik, konflik, hingga proses panjang menuju perdamaian.

Dinding dan halamannya seolah menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada usia sebuah bangunan.

Di tempat ini, sejarah tidak hanya tercatat dalam buku. Sejarah pernah hadir dalam bentuk manusia yang berkumpul, doa yang dipanjatkan, tuntutan yang disuarakan, air mata yang jatuh, hingga kehilangan yang meninggalkan luka.

Karena itu, Masjid Raya Baiturrahman tidak cukup dipandang hanya sebagai ikon wisata religi atau bangunan bersejarah.

Ia adalah saksi perjalanan panjang rakyat Aceh—tentang Islam, perjuangan, ketidakadilan, kehilangan, keteguhan, dan harapan.

Selama Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri, sebagian dari perjalanan panjang sejarah Aceh akan selalu memiliki tempat untuk dikenang.

Berita Terkait