Warga sedang mengantri Kuah Beulangong di sebuah Mesjid di dalam Kota Banda Aceh dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Foto : Ist.
Maulid Aceh Dimulai, Tradisi Tiga Bulan yang Tak Lekang oleh Zaman
Banda Aceh, Acehxpose.com | Bagi masyarakat Aceh, Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peringatan hari kelahiran Rasulullah. Ia telah menjadi tradisi yang menyatu dengan kehidupan sosial, keagamaan, bahkan budaya masyarakat.
Memasuki 1 Rabiul Awal 1448 Hijriah pada Selasa, 25 Agustus 2026, masyarakat Aceh kembali memasuki salah satu rangkaian tradisi keagamaan terbesar yang dikenal dengan sebutan Maulod.
Berbeda dengan daerah lain yang umumnya memperingati Maulid dalam satu hari atau beberapa kegiatan tertentu, di Aceh tradisi ini berlangsung panjang. Secara turun-temurun, pelaksanaannya membentang dari Rabiul Awal hingga Jumadil Awal, atau sekitar tiga bulan sepuluh hari.
Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut masih dipertahankan. Kenduri, selawat, zikir, ceramah agama dan makan bersama menjadi bagian yang hampir selalu melekat dalam perayaan Maulid di berbagai gampong.
Jejak Sejarah dari Kerajaan Aceh Panjangnya tradisi Maulid di Aceh tidak muncul begitu saja. Akar sejarahnya disebut telah ada sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam.
Dinas Pendidikan Dayah Aceh mencatat, Maulid Nabi disebut dalam surat wasiat Sultan Ali Mughayat Syah, pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.
Wasiat tersebut disebut bertanggal 12 Rabiul Awal 913 Hijriah atau 23 Juli 1507. Salah satu pesan yang disebut terkandung di dalamnya adalah pelaksanaan Maulid sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarkampung di wilayah Kerajaan Aceh Darussalam.
Meski demikian, belum ada keterangan yang benar-benar memastikan bahwa bentuk Maulid pada masa Sultan Ali Mughayat Syah sama dengan kenduri Maulid yang dikenal masyarakat Aceh sekarang.
Tradisi Maulid dengan rangkaian panjang selama tiga bulan sepuluh hari diyakini berkembang lebih kuat pada masa Sultan Iskandar Muda, ketika Aceh berada pada salah satu periode kejayaannya.
Saat itu, perkembangan Islam dan kehidupan keagamaan masyarakat berlangsung sangat pesat. Maulid pun menjadi bagian dari syiar sekaligus ruang untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Dari Molod Awal hingga Molod Seuneulheuh
Dalam masyarakat Aceh, tiga bulan pelaksanaan Maulid memiliki penyebutan tersendiri. Rabiul Awal dikenal sebagai Buleuen Molod, atau bulan Maulid awal.
Kemudian Rabiul Akhir disebut Buleuen Adoe Molod, yakni Maulid pertengahan.
Sementara Jumadil Awal dikenal sebagai Buleuen Molod Seuneulheuh, atau Maulid akhir. Selama periode tersebut, kenduri Maulid digelar secara bergiliran oleh masyarakat di berbagai gampong. Tidak ada satu pola yang benar-benar seragam. Jadwal, bentuk kegiatan dan menu kenduri dapat berbeda sesuai kesepakatan masyarakat setempat.
Namun, semangatnya tetap sama: berkumpul, berselawat, berdoa dan berbagi makanan dalam suasana kebersamaan.
Ketika Hewan Terbaik Dipersembahkan
Ada satu pemandangan yang membuat Maulid di Aceh memiliki warna tersendiri.
Masyarakat tidak jarang mempersiapkan hidangan terbaik untuk kenduri. Hewan peliharaan yang selama ini dirawat bahkan dipilih untuk dipersembahkan dalam kegiatan tersebut.
Ayam, bebek, telur bebek, kambing, lembu hingga kerbau dapat menjadi bagian dari persiapan kenduri, tergantung kemampuan masing-masing keluarga dan masyarakat.
Bukan semata-mata soal makanan. Di balik hidangan yang tersaji, terdapat ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus semangat berbagi dengan sesama. Masyarakat memberikan apa yang mereka mampu, lalu menikmatinya bersama dalam suasana penuh kekeluargaan.
Meunasah, Gampong dan Ruang Kebersamaan
Maulid juga menghadirkan fungsi sosial yang kuat. Meunasah, masjid dan lingkungan gampong menjadi ruang bertemunya masyarakat. Mereka yang sehari-hari sibuk dengan aktivitas masing-masing kembali duduk bersama dalam satu suasana.
Keluarga membawa makanan. Tetangga membantu persiapan. Pemuda mengambil bagian dalam pelaksanaan kegiatan. Para tokoh agama menyampaikan tausiah, sementara masyarakat mengikuti selawat, zikir dan doa.
Dalam suasana seperti itu, Maulid menjadi lebih dari sekadar agenda keagamaan.
Ia menjadi ruang untuk bergotong royong, bersedekah, mempererat persaudaraan dan merawat silaturahmi.
Bahkan, persiapannya sering kali telah dimulai jauh sebelum hari kenduri. Karena itu, jika dihitung dengan seluruh proses persiapannya, suasana Maulid di sejumlah daerah dapat terasa selama berbulan-bulan.
Warisan yang Terus Hidup
Di tengah modernisasi, pola kehidupan masyarakat Aceh terus berubah. Namun, Maulid masih bertahan sebagai salah satu tradisi yang mampu mempertemukan nilai agama dengan kehidupan sosial masyarakat.
Dari satu gampong ke gampong lainnya, tradisi itu terus diwariskan. Anak-anak mengenal selawat dan kisah Rasulullah, generasi muda belajar bergotong royong, sementara orang tua menjaga agar kebiasaan yang telah berlangsung turun-temurun tidak hilang.
Karena itu, Maulid di Aceh sesungguhnya bukan hanya tentang sebuah perayaan.
Ia adalah tradisi yang menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah, mempertemukan masyarakat, mengajarkan berbagi dan menjaga silaturahmi.
Dari wasiat yang dikaitkan dengan Sultan Ali Mughayat Syah hingga kenduri yang masih digelar masyarakat hari ini, Maulid terus menemukan tempatnya dalam kehidupan Aceh.
Dan setiap kali Rabiul Awal tiba, tradisi itu kembali mengingatkan masyarakat bahwa warisan sejarah tidak selalu tersimpan di dalam buku.
Sebagian di antaranya tetap hidup—di meunasah, di gampong, di meja kenduri dan di hati masyarakat Aceh. []