Foto : Al-Rasyid.id
Mencintai Ulama, Jalan Ittiba’ kepada Nabi
Oleh Saifuddin A Rasyid
Acehxpose.com | Fathunqaribuinar - Masih dalam suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., para penceramah terus mengingatkan kita tentang satu kata penting: ittiba’—mengikuti Rasulullah saw. Bukan sekadar mengaku mencintai Nabi, tetapi berusaha mengikuti perintah, sunnah, keteladanan, akhlak, dan jalan hidup beliau.
Salah satu bentuk ittiba’ yang penting untuk direnungkan adalah mencintai ulama.
Alhamdulillah, kita masih hidup di tengah-tengah para ulama. Di Aceh, kita masih dapat mendengar nasihat mereka di masjid, dayah, kampus, majelis taklim dan berbagai forum keumatan. Kita juga masih memiliki lembaga yang menjadi salah satu representasi ulama dalam kehidupan keagamaan masyarakat Aceh, seperti Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU).
Keberadaan ulama di tengah masyarakat adalah rahmat Allah yang besar.
Ketika masyarakat masih memiliki ulama yang berilmu, berakhlak dan dekat dengan umat, masih ada tempat untuk bertanya ketika bingung, tempat meminta nasihat ketika bimbang, dan tempat belajar ketika tidak mengetahui jalan yang benar.
Karena itu, mencintai ulama bukan sekadar budaya menghormati orang tua atau tokoh agama. Dalam perspektif Islam, ia berkaitan dengan kecintaan kepada ilmu dan penghormatan kepada pewaris risalah Nabi.
Ulama: orang yang ilmunya melahirkan khasy-yah
Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat mendasar tentang siapa yang disebut ulama.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28). Ayat ini menarik untuk direnungkan. Allah tidak mengatakan bahwa ukuran utama ulama adalah banyaknya pengikut, tingginya popularitas, seringnya tampil di media sosial, kepandaian berbicara, atau panjangnya gelar akademik.
Ukuran yang disebutkan Al-Qur’an adalah khasy-yah kepada Allah—rasa takut, tunduk dan hormat yang lahir dari kedalaman ilmu tentang Allah.
Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa semakin seseorang mengetahui Allah, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah. Karena itu, ilmu yang benar tidak sekadar memenuhi kepala dengan pengetahuan, tetapi menundukkan hati di hadapan kebesaran Allah.
Dengan demikian, ulama bukan hanya orang yang banyak mengetahui, tetapi orang yang ilmunya membentuk ketakwaan, ketundukan dan akhlak.
Al-Qur’an juga memperkenalkan istilah rabbaniyyun, yaitu orang-orang yang mendidik manusia dengan ilmu, sebagaimana disebut dalam QS. Ali Imran ayat 79.
Maka setidaknya ada tiga unsur besar yang melekat pada ulama sejati: ilmu yang benar, ketakwaan yang nyata, dan kemampuan membimbing manusia menuju kebaikan.
Ulama adalah pewaris Nabi
Rasulullah saw. bersabda:
العلماء ورثة الأنبياء
“Para ulama adalah pewaris para nabi.”
Hadis riwayat Abu Dawud ini kemudian menjelaskan bahwa para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Siapa yang mengambil warisan itu, sungguh ia telah memperoleh bagian yang besar.
Di sinilah kemuliaan ulama.
Ulama bukan nabi. Mereka tidak menerima wahyu. Tetapi mereka mewarisi ilmu, tugas membimbing, menyampaikan kebenaran dan menjaga umat agar tetap berada di jalan Allah.
Karena itu, mencintai ulama pada hakikatnya adalah mencintai ilmu dan warisan Nabi yang mereka bawa.
Rasulullah saw. juga bersabda:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya dalam agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Maka keberadaan orang-orang yang mendalami agama dan mengajarkannya kepada masyarakat adalah nikmat yang patut disyukuri.
Tetapi tidak semua yang berbicara agama otomatis menjadi ulama
Di sinilah kita memerlukan kewaspadaan.
Islam mengajarkan penghormatan kepada ulama, tetapi tidak mengajarkan kultus kepada manusia.
Seorang ulama tetap manusia. Ia bisa benar dan bisa keliru. Karena itu, mencintai ulama bukan berarti menganggap setiap ucapan seseorang yang disebut ulama pasti benar dalam segala persoalan.
Ukuran kebenaran tetap Al-Qur’an dan Sunnah.
Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan tentang orang-orang berilmu yang menyimpangkan ilmunya:
“Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib mereka benar-benar memakan harta manusia dengan jalan yang batil dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.”
(QS. At-Taubah: 34).
Perhatikan: “banyak”, bukan semua.
Ini penting. Kita jangan jatuh kepada dua ekstrem. Jangan menganggap semua orang yang disebut ulama pasti benar dalam segala hal. Tetapi jangan pula karena menemukan seorang yang menyimpang kemudian kehilangan kepercayaan kepada seluruh ulama.
Ada ulama yang menjadi waratsatul anbiya, tetapi ada pula orang berilmu yang ilmunya tidak membentuk ketakwaan.
Rasulullah saw. juga memperingatkan tentang orang yang memiliki kepandaian berbicara tetapi tidak memiliki ketulusan. Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan kekhawatiran Nabi terhadap orang munafik yang pandai berbicara.
Demikian pula dalam hadis riwayat Muslim tentang orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkan Al-Qur’an, tetapi amalnya dicemari niat mencari pujian manusia agar disebut sebagai orang alim dan qari.
Inilah yang harus kita waspadai sebagai ulama su’: ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah justru dijadikan jalan menuju popularitas, kehormatan, kekuasaan, keuntungan atau kepentingan dunia.
Karena itu, jangan sampai umat terkecoh oleh suara yang keras tetapi hati yang kosong, gelar yang panjang tetapi akhlak yang pendek, atau popularitas yang tinggi tetapi keteladanan yang rendah.
Mengenali ulama yang patut diikuti
Pertama, lihat ilmunya.
Ia tidak berbicara agama semata-mata berdasarkan perasaan, potongan video atau popularitas. Ia memiliki dasar keilmuan dan mampu merujukkan pendapatnya kepada Al-Qur’an, Sunnah dan khazanah keilmuan Islam.
Kedua, lihat ketakwaannya.
Ilmu yang benar melahirkan rasa takut kepada Allah. Ia tidak mudah merendahkan orang lain, tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci, dan tidak menjadikan agama sebagai panggung kesombongan.
Ketiga, lihat akhlaknya.
Nabi Muhammad saw. datang membawa ilmu sekaligus akhlak. Maka ulama yang benar semestinya semakin dekat dengan sifat-sifat kenabian: santun, amanah, penyayang, adil, rendah hati dan menjaga kehormatan manusia.
Keempat, lihat keberpihakannya kepada kebenaran.
Ulama tidak semestinya menjadi pembenar bagi siapa pun ketika sesuatu bertentangan dengan agama. Ia harus mampu mengatakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah, dengan cara yang bijaksana.
Kelima, lihat buah dakwahnya.
Apakah setelah mendengar nasihatnya manusia semakin rajin beribadah, semakin mencintai sesama, semakin menghormati orang tua, semakin jujur, amanah dan bermanfaat?
Ataukah sebaliknya, masyarakat justru semakin gemar bertengkar, mencaci, menuduh dan merasa hanya kelompoknya yang benar?
Buah dakwah merupakan salah satu cermin yang penting.
Berbeda pendapat, jangan kehilangan adab
Ada satu pesan yang sangat penting bagi generasi Muslim: berhati-hatilah dalam bersikap dan berbicara tentang ulama.
Di zaman media sosial, satu kalimat dapat tersebar kepada ribuan orang dalam hitungan detik. Kritik mudah berubah menjadi caci maki. Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Ketidaksukaan kepada seseorang kadang membuat lisan kehilangan kendali.
Padahal seorang Muslim tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain, terlebih kepada orang yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan agama.
Kita boleh berbeda pendapat dengan ulama. Bahkan sejarah Islam memperlihatkan para imam besar berbeda pendapat dalam banyak persoalan. Namun perbedaan itu tidak membuat mereka kehilangan adab.
Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad memiliki perbedaan pandangan dalam berbagai persoalan fikih. Tetapi tradisi keilmuan mereka tetap dibangun di atas penghormatan, kerendahan hati dan kesadaran bahwa tidak seorang pun selain Rasulullah saw. yang ma’shum.
Karena itu, mengkritik pendapat bukan berarti mencerca orangnya.
Jika menemukan pendapat ulama yang menurut kita kurang tepat, katakan dengan ilmu. Jika ada kekeliruan, luruskan dengan argumentasi. Jika tidak mengetahui persoalannya, bertanyalah. Jika tidak mampu menjelaskan, diam bisa lebih selamat daripada mengeluarkan kata-kata yang melukai kehormatan.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 agar suatu kaum tidak merendahkan kaum yang lain dan tidak memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
Larangan ini semestinya menjadi cermin bagi setiap pengguna media sosial.
Jangan karena merasa memiliki sedikit ilmu kemudian kita merasa berhak mencela orang yang telah puluhan tahun belajar agama. Jangan karena menemukan satu kekeliruan kemudian seluruh pengabdian seseorang kita hapus dengan satu kata kasar.
Ulama tetap manusia, tetapi kehormatan manusia juga memiliki batas yang harus dijaga.
Dan jika ternyata seorang ulama benar-benar keliru, kesalahan itu tetap tidak memberi kita lisensi untuk menjadi kasar.
Inilah adab al-ikhtilaf yang perlu diwariskan kepada generasi muda: tegas terhadap kebenaran, tetapi lembut kepada manusia; kritis terhadap pendapat, tetapi santun terhadap orangnya.
Jangan sampai kita merasa sedang membela agama, tetapi cara kita membela agama justru bertentangan dengan akhlak Nabi Muhammad saw.
Bukankah Nabi Muhammad saw. adalah teladan utama dalam kelembutan, kesantunan dan kasih sayang?
Karena itu, orang yang mencintai Nabi semestinya berusaha menghadirkan akhlak Nabi dalam lisannya.
Generasi Muslim perlu belajar mencintai ulama
Generasi Muslim hari ini hidup dalam banjir informasi. Setiap orang dapat berbicara di media sosial. Setiap orang dapat mengunggah ceramah. Bahkan seseorang dapat menjadi terkenal sebelum benar-benar matang dalam ilmu.
Karena itu, generasi muda harus memiliki tradisi berguru, bukan hanya tradisi menonton.
Datanglah ke masjid. Duduklah bersama ulama. Hadiri majelis ilmu. Bertanyalah. Bacalah kitab. Dengarkan penjelasan dari orang yang memiliki dasar keilmuan.
Jangan hanya mencari ustaz yang mengatakan apa yang ingin kita dengar.
Belajarlah membedakan antara ulama, penceramah, motivator dan tokoh media sosial. Semuanya bisa memberikan manfaat, tetapi tidak otomatis memiliki kedudukan dan kapasitas keilmuan yang sama.
Kita juga perlu mengajarkan kepada anak-anak bahwa mencintai ulama bukan berarti memuja pribadi mereka.
Hormati orangnya, pelajari ilmunya, teladani akhlaknya, tetapi tetap ukur setiap ajaran dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Jika seorang ulama mengajarkan Al-Qur’an, kita pelajari Al-Qur’an.
Jika ia mengajarkan Sunnah, kita pelajari Sunnah.
Jika ia mengajarkan akhlak, kita praktikkan akhlak.
Jika ia mengajarkan keikhlasan, kita belajar ikhlas.
Dengan demikian, kecintaan kepada ulama tidak berhenti pada mencium tangan, menghadiri pengajian atau berfoto bersama. Kecintaan itu berubah menjadi perubahan diri.
Jangan kehilangan ulama
Di tengah perubahan zaman, salah satu nikmat yang sering tidak kita sadari adalah masih adanya ulama yang hidup bersama kita.
Ketika ulama masih berada di tengah masyarakat, sebenarnya kita masih memiliki lentera.
Karena itu, jangan tunggu mereka wafat baru kita menyadari betapa berharganya mereka.
Dekatilah ulama selagi mereka masih ada. Muliakan mereka. Bantu perjuangan mereka. Hadiri majelis mereka. Tanyakan persoalan agama kepada mereka. Dengarkan nasihat mereka. Dan yang paling penting, teruskan ilmu yang mereka ajarkan.
Namun tetaplah memiliki sikap kritis dalam arti yang sehat. Jangan mengkultuskan. Jangan menjadikan seseorang sebagai ukuran mutlak kebenaran.
Sebab ulama yang benar justru akan mengembalikan manusia kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan menjadikan dirinya sebagai pusat ketaatan.
Inilah barangkali salah satu makna penting ittiba’ di bulan Maulid.
Kita mengikuti Nabi dengan mencintai apa yang beliau cintai: ilmu, iman, akhlak dan orang-orang yang menjaga agama.
Kita mencintai ulama karena mereka waratsatul anbiya.
Tetapi kita juga belajar dari peringatan Al-Qur’an dan Sunnah agar tidak tertipu oleh ilmu yang kehilangan ketakwaan.
Kita hormati ulama, tetapi tidak mengkultuskan.
Kita boleh berbeda, tetapi tidak mencerca.
Kita boleh mengkritik, tetapi tetap dengan ilmu dan adab.
Kita mengikuti ulama sejauh mereka mengajak kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Dan kita menjauh dari ulama su’ bukan dengan kebencian dan cacian, tetapi dengan menjaga diri, tidak mengikuti kesesatan, serta tetap memelihara adab sebagai seorang Muslim.
Maka kepada generasi Muslim kita berpesan: cintailah ulama, hormati ulama, belajarlah kepada ulama. Jika berbeda, berbeda dengan ilmu. Jika mengkritik, kritik dengan adab. Jika menemukan kekeliruan, luruskan dengan hikmah.
Jangan jadikan media sosial sebagai tempat menumpahkan kemarahan kepada guru-guru umat.
Lisan kita harus tetap memiliki rem, hati kita harus tetap memiliki hormat, dan ilmu kita harus tetap memiliki adab.
Sebab salah satu tanda kita benar-benar mengikuti Nabi Muhammad saw. bukan hanya apa yang kita katakan tentang beliau, tetapi juga bagaimana akhlak kita ketika berbicara tentang orang lain.
Dan barangkali inilah cara paling indah merawat semangat Maulid: mencintai Nabi dengan ittiba’, mencintai ulama dengan adab, mengambil ilmu dengan tawadhu, dan menjaga lisan dari mencerca siapa pun.
Semoga Allah menjaga para ulama kita, memberkahi ilmu dan pengabdian mereka, serta mempertemukan generasi muda dengan guru-guru yang saleh, berilmu dan penuh kasih sayang.
Ya Allah, jadikan ulama kami benar-benar pewaris para nabi, dan jadikan kami umat yang pandai menghormati ilmu, mencintai orang-orang berilmu, mengikuti kebenaran, serta menjaga lisan dan hati dari kesombongan. Amin.
Wallahu a’lam
Darussalam 6 Rabiul Akhir 1448, 17 September 2026
(Penulis, Imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop, Imum meunasah Gampong Barabung Darussalam Aceh Besar)