Temuan penimbunan BBM jenis Pertalite di salah satu SPBU di Wilayah Kota Banda Aceh pada Jumat, 25/09/2026. Foto : Ist.
Antrean BBM Mengular di Banda Aceh, Warga Keluhkan Dugaan Penimbunan Solar Subsidi
Banda Aceh | Acehxpose.com | Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) masih terlihat mengular di sejumlah SPBU di Banda Aceh, Jumat (25/9/2026).
Kondisi tersebut tidak hanya dikeluhkan pengguna kendaraan, tetapi juga warga dan pelaku usaha di sekitar SPBU yang terdampak panjangnya antrean.
Sebelumnya, petugas melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah SPBU di wilayah Banda Aceh. Dalam pemeriksaan itu, petugas menemukan satu orang yang diduga hendak menimbun BBM jenis Pertalite menggunakan beberapa jeriken berukuran besar.
Salah seorang warga, Mukhlis (39), yang ditemui Acehxpose.com saat mengantre BBM jenis Bio Solar di SPBU Kuta Alam, Banda Aceh, mengatakan panjangnya antrean telah mengganggu aktivitas masyarakat dan usaha di sekitar SPBU.
“Ini sudah sangat mengganggu saya pribadi secara waktu dan juga pemilik usaha di sekitar SPBU karena mengganggu usaha mereka,” kata Mukhlis.
Menurut dia, masyarakat berada dalam posisi dilematis. Jika tidak ikut mengantre, mereka kesulitan mendapatkan BBM untuk kebutuhan usaha. Namun, jika mengantre, kendaraan yang memanjang hingga ke badan jalan berpotensi mengganggu aktivitas warga lainnya.
“Kesannya kami serba salah, Bang. Tidak mengantri tidak punya BBM, kalau mengantri mengganggu usaha sekitar. Jadi kami dilematis,” ujarnya.
Mukhlis berharap pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap persoalan antrean BBM yang terjadi di daerah, khususnya agar distribusi BBM subsidi dapat lebih tertata.
“Maka kami meminta perhatian dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk menata agar jangan sampai antrean mengular seperti ini,” katanya.
Ia menjelaskan, BBM jenis Bio Solar yang dibelinya memang digunakan untuk mendukung aktivitas usahanya. Dengan menggunakan mobil pikap, ia mengaku bekerja sebagai agen ternak yang melayani wilayah Sibreh dan Ulee Kareng.
“Kalau kami jelas, Bang. BBM jenis Solar yang kami antri memang untuk usaha. Dengan mobil Panther pikap ini saya menjadi agen ternak di Sibreh dan Ulee Kareng,” ujarnya.
Mukhlis juga menyoroti dugaan penyalahgunaan BBM subsidi oleh pihak tertentu yang kemudian menjual kembali BBM tersebut.
Menurut dia, pemerintah perlu memperketat pengawasan agar BBM subsidi benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan dan digunakan sesuai peruntukannya.
“Beda dengan mereka-mereka yang memang antre solar subsidi kemudian dijual lagi entah ke mana,” katanya.
Ia kemudian menyinggung kecelakaan mobil Hiace yang disebut membawa sekitar dua ton solar di Aceh Jaya beberapa waktu lalu. Namun, informasi mengenai muatan kendaraan tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak berwenang.
“Hal ini terbukti ketika mobil jenis Hiace yang terbalik dua hari yang lalu di Aceh Jaya membawa dua ton solar,” ujarnya.
Mukhlis berharap persoalan antrean panjang dan dugaan penyalahgunaan BBM subsidi dapat menjadi perhatian serius pemerintah, sehingga masyarakat yang menggunakan BBM untuk kebutuhan usaha tidak terus dihadapkan pada antrean panjang.
“Mohon kepada Presiden agar persoalan ini benar-benar ditata. Kami yang menggunakan BBM untuk usaha juga sangat membutuhkan kepastian,” katanya.[]