ACEH X POSE
FH USK Edukasi Siswa SMAN 1 Lhoknga Cegah Bullying dan Kekerasan di Sekolah
Hukum

Tim PKM FH USK dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh Prof. Dr. Ilyas Yunus, SH, MH, Dr. Saifuddin Bantasyam, Dr. Nursiti, SH, MH, Dr. Ida Kemala Jeumpa, SH, MH, Roslaini, SH, MH, dan Nurhafifah, SH, MH di SMAN 1 Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu (26/9/2026).

FH USK Edukasi Siswa SMAN 1 Lhoknga Cegah Bullying dan Kekerasan di Sekolah

M
Maulana
• • 3 menit baca

Aceh Besar, Acehxpose.com | Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (FH USK) mengajak para siswa untuk lebih aktif mengenali dan mencegah praktik perundungan atau bullying di lingkungan sekolah, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Pesan tersebut disampaikan Saifuddin Bantasyam, SH, MA, saat membuka kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) FH USK di SMAN 1 Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan mengusung tema “STOP Bullying dan Kekerasan di Sekolah” dan menjadi bagian dari rangkaian PKM FH USK dalam rangka Milad USK ke-65 yang dilaksanakan di sejumlah kecamatan di Aceh Besar.

Saifuddin yang mengetuai tim FH USK mengatakan, edukasi mengenai perundungan penting diberikan agar siswa mampu mengenali bentuk-bentuk bullying sekaligus mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika menjadi korban maupun menyaksikan perundungan.

Menurutnya, perundungan dapat berbentuk ejekan, ancaman, pengucilan hingga kekerasan fisik. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan mental dan emosional siswa dalam jangka panjang.

“Semua pihak, mulai dari orang tua, guru, anak didik, hingga masyarakat luas, harus melihat perundungan sebagai sebuah masalah serius,” kata Saifuddin.

Ia juga mengingatkan guru agar lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa yang kemungkinan menjadi korban perundungan.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan perilaku secara tiba-tiba, enggan datang ke sekolah, penurunan prestasi, maupun keluhan fisik yang tidak memiliki penyebab jelas.

Kepala SMAN 1 Lhoknga, Zikriah, S.Pd., M.Pd., menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai tema perundungan dan kekerasan sangat relevan dengan kondisi sekolah saat ini.

“Momentumnya memang sangat tepat. Kehadiran tim FH USK kami harapkan tidak hanya dalam rangka PKM semata, melainkan juga bisa dalam sesi-sesi lain sehingga dapat menjadi warisan bagi SMAN 1 Lhoknga dalam mencegah buli dan kekerasan di masa yang akan datang,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 40 siswa dibagi ke dalam 10 kelompok. Setiap kelompok diberikan dua pertanyaan untuk didiskusikan, kemudian perwakilan kelompok mempresentasikan hasil pembahasan mereka.

Model tersebut diterapkan agar siswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi pusat kegiatan dan aktif menyampaikan pandangan mereka mengenai persoalan perundungan.

Saifuddin mengatakan, para siswa menunjukkan antusiasme selama proses diskusi maupun presentasi.

“Terlihat mereka sudah memiliki pemahaman awal yang cukup baik tentang mengapa perundungan sering terjadi di berbagai sekolah. Mereka tahu dampak kepada korban dan pelaku serta mengenai apa yang harus dilakukan oleh siswa jika menjadi korban, serta bagaimana peran sekolah dan para orang tua dalam mencegah buli,” katanya.

Tim PKM FH USK dalam kegiatan tersebut terdiri dari Prof. Dr. Ilyas Yunus, SH, MH, Dr. Nursiti, SH, MH, Dr. Ida Kemala Jeumpa, SH, MH, Roslaini, SH, MH, dan Nurhafifah, SH, MH.

Selain kegiatan diskusi, Prof. Dr. Zahratul Idami, SH, M.Hum., dan Saifuddin Bantasyam juga menjadi narasumber dalam Podcast Ngola (Ngobrol Sekolah) yang dikelola OSIS SMAN 1 Lhoknga. Podcast tersebut kembali mengangkat tema perundungan dan kekerasan di sekolah.[]

Berita Terkait