Suasana Saree yang didokumentasikan pada Jumat, 03 Juli 2026. Foto : Ist.
Barangkali, Saree Sedang Melewati Masa yang Sunyi
Oleh : Redaksi
"Kalau pulang, kita lewat Saree saja. Biar kenangan itu tetap terawat."
Kalimat sederhana itu terlontar dalam perjalanan kami usai melakukan lawatan ke Kabupaten Pidie Jaya, Jumat, 3 Juli 2026. Tak ada perdebatan. Semua sepakat. Saat perjalanan pulang, kami sengaja tidak masuk ke Gerbang Tol Padang Tiji. Mobil terus melaju menyusuri jalan nasional yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi perjalanan masyarakat Aceh, jalur Saree–Seulawah.
Pilihan itu bukan semata-mata mencari jalan yang lebih jauh. Kami ingin melihat kembali sebuah kawasan yang dulu nyaris tak pernah tidur.
Sejak bencana hidrometeorologi melanda Aceh pada November 2025, ruas Tol Seulimum–Padang Tiji difungsikan untuk mempercepat distribusi bantuan. Awalnya hanya dibuka dari pukul 07.00 hingga 18.00 WIB. Selepas itu, kendaraan kembali diarahkan melalui jalur Saree.
Namun seiring kebutuhan penanganan bencana, jalan tol kemudian dibuka selama 24 jam. Sejak saat itu, arus kendaraan di jalan lama nyaris menghilang.
Dan hari itu, kami menyaksikannya sendiri.
Warung-warung yang dulu dipenuhi kendaraan kini tampak lengang. Beberapa bahkan sudah menutup usahanya. Dapur-dapur pembuat keripik tak lagi mengepul. Lapak penjual pisang dan aneka hasil kebun terlihat sepi menunggu pembeli yang tak kunjung datang.
Sepanjang perjalanan, kendaraan yang melintas bisa dihitung dengan jari. Dalam perkiraan kami, tak lebih dari sekitar 30 mobil yang terlihat lewat, berhenti, atau sekadar parkir.
Kami singgah di Warung Cek Gu, salah satu ikon kuliner Saree. Pemandangan yang tersaji begitu kontras dengan apa yang selama ini kami kenal.
Hanya empat mobil terparkir. Padahal dulu, mencari tempat parkir di warung itu sering kali menjadi tantangan tersendiri. Kendaraan mengular, pengunjung datang silih berganti. Kini suasana itu seperti tinggal cerita.
Saree memang bukan sekadar jalur penghubung.
Bagi banyak orang Aceh, kawasan ini adalah bagian dari perjalanan hidup. Mereka yang datang dari pantai timur menuju Banda Aceh pasti akrab dengan tikungan S Saree, Cot Meusen Gileng, Jembatan Seunapet, hingga tanjakan Cot Seureutoh. Nama-nama itu bukan hanya penanda jalan, melainkan serpihan kenangan yang melekat di kepala banyak orang.
Ada pula aroma tape ubi yang baru matang, keripik yang renyah, jagung rebus, martabak telur, semangkuk mie hangat, hingga aneka masakan warung yang menjadi teman perjalanan.
Kini, sebagian besar keramaian itu perlahan memudar.
Jalan tol memang menghadirkan efisiensi. Waktu tempuh menjadi lebih singkat, perjalanan lebih nyaman, biaya operasional kendaraan pun lebih hemat. Sulit menyalahkan masyarakat yang memilih jalur tercepat.
Namun, di balik kemudahan itu, denyut ekonomi di jalur lama ikut melambat.
Seorang kawan yang bekerja di sektor perbankan bercerita, transaksi keuangan di Kantor Cabang Pembantu Saree menurun drastis sejak tol beroperasi penuh. Aktivitas ekonomi yang biasanya bergerak dari lalu lintas kendaraan kini tak lagi seramai dahulu.
Perubahan selalu membawa konsekuensi.
Ada yang memperoleh manfaat, ada pula yang harus beradaptasi dengan kenyataan baru.
Meski begitu, keyakinan masyarakat Aceh selalu sama. Rezeki tidak akan tertukar. Dalam ajaran Islam diyakini bahwa Allah telah menetapkan rezeki setiap hamba bahkan sejak masih berada dalam kandungan.
Barangkali, Saree sedang melewati masa yang sunyi.
Tetapi sejarah telah mengajarkan bahwa setiap daerah memiliki cara untuk bangkit. Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok. Akan datang saatnya kawasan yang pernah menjadi persinggahan favorit para musafir itu kembali menemukan denyutnya.
Sampai hari itu tiba, Saree akan tetap menjadi jalan yang menyimpan begitu banyak kenangan, tempat orang-orang pernah singgah, bercengkerama, mengisi perut, lalu melanjutkan perjalanan dengan membawa cerita.[]