ACEH X POSE
Harga Semen Makin Menggila Di Aceh, Capai Rp150 Ribu Per Sak, Masyarakat dan Pengusaha Resah
Ekonomi & Bisnis

Ilustrasi semen : Dokumen : Ist.

Harga Semen Makin Menggila Di Aceh, Capai Rp150 Ribu Per Sak, Masyarakat dan Pengusaha Resah

M
Maulana
3 menit baca

Banda Aceh, Acehxpose.com | Harga semen di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar kembali dikeluhkan masyarakat. Harga bahan bangunan tersebut disebut telah menembus Rp150 ribu per sak, jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal yang selama ini berlaku di pasaran.

Kondisi tersebut mulai menimbulkan keresahan, terutama bagi masyarakat yang tengah membangun atau merenovasi rumah, maupun para pelaku usaha konstruksi yang membutuhkan semen dalam jumlah besar.

Keluhan itu disampaikan Febry (39), warga yang pada Sabtu (8/8/2026) berbelanja sejumlah kebutuhan bahan bangunan di kawasan Keutapang, Aceh Besar.

Ia mengaku terkejut ketika mengetahui harga semen yang mencapai Rp150 ribu per sak.

"Tadi saya mau membeli kebutuhan bahan bangunan, termasuk semen. Begitu tahu harganya sampai Rp150 ribu per sak, saya kaget. Akhirnya semen tidak jadi dibeli dan pembangunan rumah untuk sementara saya tunda," ujar Febry.

Menurutnya, kenaikan harga semen tidak hanya berdampak terhadap masyarakat yang membangun rumah secara mandiri, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya pembangunan secara keseluruhan.

"Kalau harga semen seperti ini, tentu biaya pembangunan rumah ikut naik. Masyarakat yang dananya terbatas pasti sangat terbebani," katanya.

Keresahan serupa juga berpotensi dirasakan para pengusaha dan pelaku jasa konstruksi. Pasalnya, semen merupakan salah satu material utama dalam berbagai pekerjaan pembangunan, mulai dari rumah, gedung, jalan, saluran hingga pekerjaan rehabilitasi dan pembangunan fasilitas publik.

Kenaikan harga yang terjadi di tengah pelaksanaan berbagai proyek pembangunan dikhawatirkan membuat pelaku usaha harus mengeluarkan modal lebih besar untuk memenuhi kebutuhan material.

Kondisi tersebut menjadi semakin berat bagi kontraktor yang telah menyusun perhitungan biaya berdasarkan harga material sebelumnya. Jika harga semen naik secara signifikan, margin keuntungan pengusaha dapat tergerus, bahkan berpotensi menimbulkan persoalan dalam pelaksanaan proyek apabila pasokan dan harga tidak segera stabil.

Kekhawatiran juga muncul terhadap proyek-proyek pembangunan yang berkaitan dengan penanganan dan pemulihan pascabencana. Kebutuhan material konstruksi untuk pembangunan kembali rumah warga, fasilitas umum dan infrastruktur yang rusak tentunya cukup besar.

Jika harga semen terus bertahan pada level tinggi, biaya rehabilitasi dan rekonstruksi dikhawatirkan ikut membengkak.

Febry berharap pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan untuk mengetahui penyebab kenaikan harga semen tersebut sekaligus memastikan ketersediaan pasokan di tingkat distributor maupun pengecer.

Masyarakat membutuhkan kepastian harga dan pasokan agar pembangunan yang sudah direncanakan tidak terhenti.

"Kami berharap ada tindak lanjut dari pihak terkait. Kalau memang masalahnya pasokan, tolong dicari solusinya agar semen kembali tersedia dan harganya normal," ujarnya.

Ia menilai pemerintah perlu melakukan pengawasan terhadap rantai distribusi bahan bangunan, terutama apabila kenaikan harga terjadi akibat terbatasnya pasokan atau gangguan distribusi.

Sebab, apabila harga terus meningkat, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh konsumen rumah tangga, tetapi juga pekerja bangunan, toko material, kontraktor, pengembang hingga masyarakat yang sedang membutuhkan rumah.

Kondisi harga semen ini pun diharapkan segera mendapat perhatian serius, mengingat pembangunan dan pemulihan infrastruktur di Aceh membutuhkan kepastian ketersediaan material dengan harga yang wajar.

Masyarakat dan pengusaha kini menanti langkah konkret pemerintah untuk memastikan pasokan semen kembali lancar dan harga tidak semakin membebani masyarakat.[]

Berita Terkait