Plt Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, menghadiri penutupan Milad dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-58 Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Darussa'adah Wilayah I Pidie dan Pijay di YPI Asjadi Darussa'adah Kayee Raya, Pijay, Selasa 30 Juni 2026.
Penutupan Milad dan MTQ ke-58 Darussa'adah, Pemerintah Aceh Dorong Lahirnya Santri Berilmu dan Siap Mengabdi
Pidie Jaya | Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, menghadiri penutupan Milad dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-58 Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Darussa'adah Wilayah I Pidie dan Pidie Jaya di YPI Asjadi Darussa'adah Kayee Raya, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, Selasa, 30 Juni 2026.
Rangkaian kegiatan yang menjadi agenda tahunan itu ditutup setelah para santri mengikuti berbagai perlombaan di bidang Al-Qur'an, keilmuan Islam, bahasa, hingga seni Islam. Bagi lingkungan dayah, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wahana pembentukan karakter dan penguatan tradisi keilmuan.
Dalam sambutannya, Muhsin mengatakan kegiatan ekstrakurikuler memiliki posisi strategis dalam proses pendidikan di dayah. Melalui kegiatan itu, santri memperoleh ruang untuk mengekspresikan kemampuan sekaligus mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.
"Kegiatan ekstrakurikuler ini bertujuan menyediakan ruang bagi santri Dayah Darussa'adah untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri," katanya.
Menurut Muhsin, beragam cabang perlombaan yang digelar diharapkan mampu meningkatkan kompetensi santri, baik dalam bidang Al-Qur'an, ilmu-ilmu keislaman, bahasa, maupun seni Islam. Di saat yang sama, kegiatan tersebut menjadi sarana menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat, sportif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Ia menambahkan, pembinaan melalui kegiatan semacam itu juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kecintaan santri terhadap Al-Qur'an dan tradisi keilmuan dayah. Selain itu, kegiatan tersebut dinilai sejalan dengan program Pemerintah Aceh dalam memperkuat pendidikan dayah untuk melahirkan sumber daya manusia yang Islami, unggul, dan berkarakter.
Muhsin turut mengapresiasi antusiasme para pimpinan dayah, dewan guru, dan santri yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ia mengajak seluruh peserta menjadikan momentum tersebut sebagai ajang menunjukkan kualitas santri Aceh kepada masyarakat.
"Kepada seluruh santri dan pimpinan dayah, mari kita manfaatkan momentum ekstrakurikuler ini dengan sebaik-baiknya, terutama untuk memberi kabar kepada dunia bahwa santri Aceh itu ada dan akan terus ada di negeri ini sepanjang zaman. Santri Aceh bukan hanya berkhidmat kepada agama, tetapi juga berkontribusi bagi negeri," ujarnya.
Di akhir sambutan, Muhsin mengingatkan bahwa nilai sebuah perlombaan tidak hanya ditentukan oleh kemenangan, melainkan juga oleh proses pembelajaran yang dijalani setiap peserta.
"Kami berharap setiap peserta dapat menjaga kebersamaan serta menampilkan karya dan kemampuan terbaik dengan penuh dedikasi. Ingatlah, kemenangan sejati bukan hanya pada piala, melainkan pada pengalaman berharga yang akan menemani perjalanan hidup. Teruslah berusaha, berikan yang terbaik, dan jadikan perlombaan ini sebagai jalan menuju masa depan yang lebih gemilang," katanya.
Menurut Muhsin, Pemerintah Aceh mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan positif di lingkungan pendidikan dayah. Ia menilai hakikat pendidikan dayah adalah beut dan seumeubeut—belajar sekaligus mengajarkan ilmu kepada orang lain. Karena itu, santri perlu ditempa melalui berbagai ruang pembinaan agar memiliki kesiapan saat terjun ke tengah masyarakat.
"Santri harus teruji sebelum berada di medan pengabdian. Ketika nanti kembali ke masyarakat, mereka diharapkan mampu menjadi penerang, memberikan pemahaman keagamaan yang baik, serta menghadirkan manfaat bagi umat. Itulah esensi pendidikan dayah, melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi," ujar Muhsin.[]