ACEH X POSE
Harga Daging Meugang di Banda Aceh Tembus Rp190 Ribu per Kilogram
Trending

Harga Daging Meugang di Banda Aceh Tembus Rp190 Ribu per Kilogram

M
Maulana
2 menit baca 45 kali dibaca

Banda Aceh — Tradisi meugang yang digelar masyarakat Aceh menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah kembali menyebabkan lonjakan harga daging di pasaran. Pada Senin (25/5/2026), harga daging sapi kualitas nomor satu di sejumlah kawasan di Kota Banda Aceh seperti Beurawe dan Ulee Kareng mencapai Rp175 ribu hingga Rp190 ribu per kilogram.

Pantauan di lapangan menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat membeli daging untuk dimasak dan disantap bersama keluarga sebagai bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Aceh. Meugang sendiri menjadi tradisi penting yang selalu dilaksanakan masyarakat Aceh menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Para pedagang mengaku kenaikan harga tidak dapat dihindari karena harga lembu dari peternak juga mengalami kenaikan drastis akibat tingginya permintaan menjelang hari besar keagamaan.

“Sapi yang kami beli dari peternak memang sudah mahal sejak beberapa hari terakhir. Karena itu harga jual ikut naik,” ujar salah seorang pedagang daging di kawasan Ulee Kareng.

Fenomena lonjakan harga daging saat meugang bukan kali pertama terjadi. Pada meugang Ramadan dan Idul Fitri 2026 lalu, harga daging di Banda Aceh dan Aceh Besar juga sempat berada di kisaran Rp160 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram akibat tingginya permintaan masyarakat.

Pemerintah Kota Banda Aceh sebelumnya telah melakukan berbagai langkah pengendalian harga melalui program pasar murah daging meugang. Dalam program tersebut, daging dijual dengan harga subsidi Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram guna membantu masyarakat dan menjaga stabilitas harga pasar. Bahkan menjelang Meugang Idul Adha 1447 Hijriah tahun ini, Pemerintah Kota Banda Aceh kembali membuka enam titik pasar murah daging meugang yang tersebar di sejumlah kecamatan. Program tersebut dilaksanakan melalui Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Kota Banda Aceh sebagai langkah pengendalian inflasi daerah.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah harus hadir menjaga keterjangkauan harga daging karena tradisi meugang merupakan bagian penting budaya masyarakat Aceh.

Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya menggelar pasar murah, tetapi juga memperkuat pengawasan distribusi ternak dan kestabilan harga di tingkat peternak maupun pedagang. Mengingat Aceh memiliki tradisi meugang sebanyak tiga kali dalam setahun, yakni menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha, pengendalian harga dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Selain itu, warga juga meminta adanya penambahan stok ternak lokal, subsidi transportasi ternak, hingga operasi pasar yang lebih luas agar lonjakan harga setiap meugang tidak semakin memberatkan masyarakat kecil. Tradisi meugang sendiri bukan hanya soal membeli daging, tetapi juga simbol kebersamaan, silaturahmi, dan budaya masyarakat Aceh yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Berita Terkait